FIQIH ‘ALAWIYYAH KE-3 (BAB – KEUTAMAAN AHLULBAIT RASULULLAH)


Oleh:
As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini
(Pimpinan Majelis Dakwah Wali Songo)

Syeikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya yang berjudul ‘Jala’ul-Afham’, mulai halaman 210, membicarakan keutamaan-keutamaan (fadha’il) ahlulbait Rasulullah s.a.w. berkaitan dengan kemuliaan ahlulbaitun-nubuwwah secara menyeluruh. Yang dimaksud dengan ‘ahlubaitun-nubuwwah’ dalam hal itu ialah mulai dari ahlubait Nabi Ibrahim a.s hingga ahlubait Muhammad Rasulullah s.a.w.

Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa keluarga silsilah keturunan Nabi Ibrahim a.s adalah keluarga-keluarga yang diberkati dan disucikan Allah s.w.t., karena itu mereka adalah silsilah keluarga yang paling mulia di antara semua ummat manusia.

Allah s.w.t. berkenan menganugerahkan berbagai keistimewaan dan keutamaan kepada mereka.

Di antara keutamaan yang banyak itu ialah:

1. Banyak Nabi dan Rasul – dengan syari’at dan Kitab Sucinya masing-masing – lahir dari kalangan mereka, dan dari kalangan mereka pula lahir para Imam yang memberikan penerangan serta petunjuk kepada ummat manusia hingga saat tibanya hari kiamat kelak. Semua hali takwa dan para waliyyullah yang dijanjikan akan masuk syurga adalah karena mereka itu menempuh jalan hidup yang diserukan dan dianjurkan oleh keluarga nubuwwah.

2. Allah s.w.t. mengangkat martabat Nabi Ibrahim a.s sedemikian tinggi dengan memberi gelar kepada beliau sebagai ‘Khalil’ (kekasih Allah), sebagaimana ditegaskan Allah s.w.t. di dalam firman-Nya (surah An-Nisa: 125). Rasulullah s.a.w. sendiri dalam sebuah hadits menegaskan: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat diriku sebagai ‘Khalil’, sama dengan Ibrahim yang telah diangkat pula sebagai ‘Khalil’.

3. Allah s.w.t. telah menjadikan Nabi Ibrahim a.s dan keturunannya sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia. Hal ini difirmankan Allah s.w.t. di dalam Al-Qur’anul-Karim surah Al-Baqarah ayat 124.

4. Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail – alaihissalam – membangun baitullah (rumah Allah) – Al-Ka’batul-Mukarramah – yang kemudian oleh Allah s.w.t. ditetapkan sebagai kiblat, dan ke sana pula semua kaum Muslimin menunaikan ibadah haji. Rumah suci tersebut adalah buah karya baitun-nubuwwah yang mulia.

5. Allah s.w.t. telah memerintahkan semua orang yang beriman supaya senantiasa mengucapkan shalawat bagi Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarga (aal) beliau seperti shalawat yang diucapkan bagi Nabi Ibrahim dan keluarga (aal) beliau.

6. Allah s.w.t. telah menciptakan dua ummat manusia terbesar di dunia, yaitu ummat Nabi Musa a.s dan ummat Nabi Muhammad s.a.w. sebagai ummat-ummat terbaik dalam pandangan Allah, guna melengkapi jumlah 70 ummat yang diciptakan-Nya.

7. Allah s.w.t. melestarikan kemuliaan baitun-nubuwwah sepanjang zaman dengan selalu disebut-sebutnya keagungan mereka dan keluarga serta keturunan mereka; sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’anul-Karim (surah Ash-Shaffat: 108-110).

8. Allah s.w.t. telah menjadikan baitun-nubuwwah (keluarga Nabi Ibrahim a.s dan keturunannya hingga Nabi Muhammad s.a.w. dan keturunannya) sebagai ‘furqan’ (batas pemisah kebenaran dan kebatilan). Bahagialah manusia yang mengikuti seruan dan jejak mereka, dan celakalah mereka yang memusuhi dan menentangnya.

9. Allah s.w.t. berkenan menyebut nama-nama mereka di samping nama-Nya sendiri dengan menyebut Nabi Ibrahim: “Ibrahim Khalilullah”, “Musa Kalimullah” (manusia yang langsung menerima firman Allah), dan “Muhammad Habibullah” (kesayangan Allah). Kecuali itu Allah s.w.t. telah menegaskan juga kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang nikmat besar yang telah dilimpahkan-Nya kepada beliau s.a.w., sebagaimana termaktub dalam surah Al-Insyirah: 4. Sehubungan dengan itu Ibnu ‘Abbas meriwayatkan, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Apabila engkau menyebut Allah, sebutlah pula namaku”. Yakni: Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Sebutlah kalimat itu, baik pada saat orang mulai memeluk Islam, di dalam azan, dalam khutbah, dalam tasyahud dan lain sebagainya. Demikian kata Ibnu ‘Abbas r.a.

10. Allah s.w.t. menghindarkan ummat manusia dari kesengsaraan dunia dan akhirat melalui tuntutan dan bimbingan baitun-nubuwwah itu. Betapa besar kebajikan yang telah dicurahkan oleh baitun-nubuwwah demi keselamatan ummat manusia. Mereka telah banyak berbuat kebajikan dan ihsan bagi manusia masa silam, masa kini dan masa mendatang. Setiap amal kebajikan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi, di samping Allah memberikan pahala kepadanya, Allah juga berkenan memberikan pahala kepada baitun-nubuwwah atas jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada seluruh ummat manusia. Maha Suci Allah Yang telah memberikan kemuliaan kepada siapa saja menurut kehendak-Nya.

11. Kepada baitun-nubuwwah itu Allah s.w.t. telah menganugerahkan keistimewaan khusus, yaitu menutup semua jalan dan pintu bagi manusia di dunia ini untuk mendekatkan diri kepada-Nya, selain jalan dan pintu yang telah dirintis dan dibukakan oleh baitun-nubuwwah. Dalam sebuah hadits Qudsiy Allah s.w.t. berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w.: “Demi Kemuliaan-Ku dan Demi Keagungan-Ku, seandainya manusia hendak datang kepada-Ku melalui jalan dan pintu mana saja, tak akan Ku-bukakan sebelum mereka mengikuti jejakmu”.

12. Allah s.w.t. telah menjadikan baitun-nubuwwah sebagai pemusatan ilmu pengetahuan tentang: Keagungan Asma Allah, sifat-sifat Allah, hukum-hukum Allah, af’al Allah (segala sesuatu yang dilakukan Allah), anugerah dan ganjaran Allah, hal-hal yang diridhai dan dimurkai Allah, para malaikat dan semua makhluk ciptaan Allah; lebih banyak daripada ilmu pengetahuan yang ada pada baitun-nubuwwah.

13. Allah s.w.t. menempatkan baitun-nubuwwah di muka bumi sebagai khalifah yang dipatuhi oleh ummat manusia. Kemuliaan seperti itu tidak diberikan Allah s.w.t. kepada keluarga lain, dan itu merupakan keistimewaan yang luar biasa besarnya.

14. Melalui baitun-nubuwwah itu Allah s.w.t. hendak menghapuskan kesesatan dan syirik dari muka bumi, yaitu suatu sikap mental dan kejiwaan yang paling dimurkai Allah. Untuk itu Allah s.w.t. menanamkan perasaan cinta kepada mereka di dalam hati ummat manusia. Tidak ada keluarga lain manapun juga yang pernah memperoleh kecintaan ummat manusia setinggi yang mereka peroleh.

15. Allah s.w.t. telah menjadikan peninggalan mereka (agama-agama yang mereka bawakan) di muka bumi ini sebagai jaminan keselamatan bagi alam semesta, yang akan senantiasa tetap lestari selama agama mereka tetap lestari. Manakala agama yang mereka ajarkan itu lenyap dari muka bumi, itu merupakan petanda mulai hancurnya alam semesta. Allah s.w.t. telah menjelaskan di dalam Al-Qur’anul-Karim, bahwa Allah tetap menjadikan Ka’bah sebagai tempat suci yang di dalamnya dilarang adanya perbuatan permusuhan dan lain sebagainya. Ibnu ‘Abbas r.a pernah mengatakan andaikata tidak ada lagi manusia yang menunaikan ibadah haji, maka akan ambruklah langit ini. Kecuali itu, konon Rasulullah s.a.w. sendiri pernah memberitahu para sahabatnya, bahwa pada akhir zaman Allah akan mengangkat Ka’bah dari muka bumi dan meniadakan Kalam-Nya (firman-firman-Nya) dari kitab Suci dan dari dada setiap insane, sehingga di bumi ini tidak ada lagi Ka’bah tempat orang menunaikan ibadah haji, dan tidak ada lagi ayat-ayat suci dibaca orang. Saat itu menandakan hampir tibanya hari kiamat dan kehancuran alam semesta.

Demikian pula keadaan manusia dewasa ini, kesentosaan mereka tergantung pada kesentosaan agama dan syari’at yang ditinggalkan oleh seorang Nabi akhir zaman yang datang dari baitun-nubuwwah, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. keselamatan manusia dari cobaan dan malapetaka tergantung pada sikap manusia sendiri dalam melestarikan kesentosaan ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Malapetaka dan berbagai macam bencana pasti akan menimpa kehidupan ummat manusia manakala mereka menjauhi kebenaran dan keadilan yang diajarkan Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. dan bernaung kepada hal-hal selain Allah dan tuntutan agama-Nya. Barangsiapa yang merenungkan murka Allah yang ditimpakan kepada seorang manusia atau sebuah negeri yang memusuhi-Nya, ia dapat memahami bahwa turunnya azab itu akibat sikap manusia sendiri yang tidak menghiraukan agama Allah.

Kesemuanya itu merupakan berkah dan rahmat Allah s.w.t. yang telah dilimpahkan kepada baitun-nubuwwah. Di antara mereka itu ada yang memperoleh martabat tinggi dan keutamaan-keutamaan lain, seperti: Nabi Ibrahim diangkat sebagai ‘Khalilullah’, Nabi Ismail diberi gelaran sebagai ‘Dzabihullah’, Nabi Musa didekatkan kepada-Nya dan dianugerahkan gelaran ‘Kalimullah’, Nabi Yusuf dianugerahi kehormatan dan paras indah yang luarbiasa, Nabi Sulaiman dianugerahi kerajaan dan kekuasaan yang tiada tolok bandingannya di kalangan ummat manusia dan jin, Nabi Isa diangkat kedudukannya ke martabat yang setinggi-tingginya, dan Nabi Muhammad diangkat sebagai penghulu semua Nabi dan Rasul serta sebagai Nabi terakhir pembawa agama Allah yang terakhir, Islam. Maha Benar Allah yang telah menyatakan bahwa mereka itu telah dianugerahi keutamaan mengungguli semua keutamaan yang ada di dunia dan di alam semesta.

Keistimewaan-keistimewaan khusus lainnya dilimpahkan Allah s.w.t. kepada mereka ialah, bahawa Allah meniadakan azab umum dari ummat manusia. Tidak seperti ummat-ummat sebelum mereka yang selalu dikenakan azab umum apabila sudah banyak orang yang mendustakan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada mereka; seperti azab umum yang ditimpakan Allah kepada ummat Nabi Nuh a.s, ummat Nabi Salleh a.s, ummat Nabi Luth a.s dan lain-lain. Akan tetapi setelah Allah s.w.t. menurunkan kitab-kitab suci Taurat, Injil dan Al-Qur’an, Allah berkenan meniadakan azab umum dari ummat manusia. Allah hanya memerintahkan dilakukannya perjuangan terhadap manusia-manusia yang mendustakan para Nabi dan Rasul.

Demikianlah, beberapa keutamaan baitun-nubuwwah yang diketengahkan oleh Syeikhul Islam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, ‘Jala’ul-Afham’.

Mengingat kemuliaan martabat baitun-nubuwwah yang di mulai sejak Nabi Ibrahim a.s secara turun-temurun hingga Nabi kita Muhammad s.a.w. tidaklah menghairankan jika beliau mewanti-wanti ummatnya supaya menghormati dan bersikap tepat terhadap ahlulbait dan keturunannya. Ini bukan semata-mata kerana keagungan martabat beliau sendiri sebagai Nabi dan Rasul, melainkan kerana kemuliaan baitun-nubuwwah yang telah ditetapkan Allah s.w.t. sejak Nabi Ibrahim a.s. Itulah rahasia besar yang terselip di dalam hadits Tsaqalain dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w.

Referensi:

1. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Kitab Jalaul Afham
2. Hadits Tsaqalain

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s