Tarekat Chistiyyah

Oleh: Syarifah Qiro’atut Taslimah Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini

Tarekat Chistiyyah, adalah tarekat yang namanya di ambil dari suatu wilayah di Afganistan, asal usulnya dapat dilacak hingga abad ke-3 H/9 M. Namun, meskipun nama tarekat ini diambil dari nama suatu wilayah di Afganistan, tarekat ini hanya terkenal di India dan melalui Syaikh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Tarekat ini berkembang di Indonesia. Chistiyyah memiliki silsilah spiritual yang jejaknya dapat ditelusuri sampai kepada Hasan al-Bashri (21-110 H/ 642-728 M). Mereka meyakini bahwasanya Hasan al-Bashri adalah merupakan murid dari Ali bin Abi Thalib, sebuah klaim yang validitasnya mereka temukan secara spiritual.

Pendiri Tarekat Chistiyyah di India adalah Khawajah Mu’in al-Din Hasan. Selain itu, Syaikh Nizham al-Din Auliya yang menetap di Delhi, mengkristalisasikan ajaran Chistiyyah di Utara India, serta di wilayah Deccan. Murid-muridnya, mendirikan perguruan-perguruan Chistiyyah di Jawnpur, Malwa, Gujarat, dan Deccan.

Ada begitu banyak karya Chistiyyah yang tersedia, dan sebagian besar di tulis dalam Bahasa persia. Para Sufi Chistiyyah pun menulis karya dalam dialek-dialek lokal, juga dalam Bahasa Arab. Diantara beberapa karya Chistiyyah adalah, Malfuzhat (karya yang keasliannya diragukan, atau tidak dapat dilacak autentisitasnya), Literatur biografis dari para pembimbing spiritual, Maktubat (Surat-Surat), puisi-puisi berbahasa Hindi, dan lain sebagainya.

Para anggota tarekat ini, hidup berbaur dengan masyarakat, mereka tidaklah membangun khaneqah dengan “empat dinding dan pintu gerbangnya”. Tapi, mereka membangun sebuah jama’at-khanah, dengan dinding lumpur dan atap jerami. Tempat tersebut, terbuka bagi umum, dan sebagai tempat berdiskusi dari berbagai macam ide. Para syaikh dan anggota-anggotangya menjalani hidup dalam konsep futuh, yaitu tidak pernah meminta-minta pemberian orang.

Tarekat Chistiyyah berakar pada Sunni. Mereka menganut mazhab fiqh Hanafi. Namun demikian, pandangan mereka tidaklah terikat pada hukum secara skriptural, melainkan lebih mementingkan makna terdalamnya. Aspek mereka yang paling dominan adalah adanya kesetiaan untuk memegang tradisi hidup berdampingan secara damai.

Kaum Chistiyyah awal meyakini bahwa kontak dengan orang-orang suci dan para wali adalah satu satunya sarana yang dapat membuat manusia memeluk Islam. Mereka percaya bahwasanya hanya kelompok muslim yang saleh sajalah yang dapat menarik orang lain untuk menerima Islam. Misi utama mereka adalah berupaya mempersatukan orang-orang Hindu yang memeluk Islam untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang muslim yang benar-benar saleh.

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s