Kaum Arab-Hadrami di Indonesia: Antara Mempertahankan Realitas atau Melihat Realitas Global?

Oleh Hikmawan Saefullah
Staf Pengajar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran dan pengkaji studi-studi Timur Tengah

Sumber Data dari : http://conformeast.multiply.com/journal/item/1/Kaum_Arab-Hadrami_di_Indonesia_ANtara_Mempertahankan_Realitas_atau_Melihat_Realitas_Global

Latar Belakang Sejarah

L. VanRijck Vorsel dalam bukunya, “Riwayat Kepulauan Hindia Timur” menjelaskan bahwa orang-orang Arab datang jauh terlebih dahulu ke wilayah Nusantara dibandingkan orang-orang Belanda. Sebagaimana para pedagang dari Cina, orang-orang Arab telah lebih dahulu bermigrasi dan tinggal di pulau Sumatera. Dan pada akhir abad ke-13 M, diperkirakan aktivitas penyebaran ajaran Islam mulai dilakukan oleh berbagai pendatang dari Maghribi, Asia Selatan, dan Timur Jauh. Mereka antara lain terdiri dari para pedagang dari Persia, Arab, Cina, India dan Hadramaut. Para pendatang dari Hadramaut ini kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah dan atas, yang bertujuan untuk melakukan perdagangan, menyebarkan pengaruh dan ajaran Islam, dan mencari tempat tinggal baru di berbagai belahan Asia, termasuk diantaranya Indonesia.

Perjalanan orang-orang Arab Hadramaut ke Nusantara dilakukan dengan menggunakan kapal kayu, mula-mula mereka harus ke pelabuhan Al-Mukalla atau Al-Syhir, kemudian berlayar ke Malabar India Selatan, dari sana ke Sri Langka, lalu ke Aceh atau Singapura kemudian, sebagian besar menetap di pulau Sumatera, terutama di Palembang, sedangkan yang lainnya menyebar ke berbagai kepulauan Nusantara lainnya, termasuk diantaranya ke Kalimantan, Sulawesi dan ke pulau Jawa.

Kedatangan di Nusantara

Meskipun pada abad ke-9 M, di pulau Sela dekat Sulawesi telah ada kaum Alawiyyin (kaum keturunan Rasulullah SAW melalui cucunya Al-Hasan dan Al-Husayn) yang sudah menetap hingga ia wafatnya akibat kejaran Bani Umayyah dan Bani Abbas, kaum Arab Hadrami masuk ke Nusantara dalam jumlah yang cukup besar dapat dibagi kepada dua frekuensi utama.

Yang pertama, pada abad 13, 14 dan 15 M; pada frekuensi ini, kebanyakan orang-orang Arab Hadrami sudah berasimilasi penuh dengan penduduk pribumi; mereka menikahi wanita-wanita setempat dan mempunyai keturunan yang banyak, baik keturunan yang laki-laki, maupun yang perempuan, juga, menikahi orang-orang pribumi sepenuhnya. Sehingga untuk menelusuri dan menemukan silsilah mereka akan sangat sulit sekali, kecuali bagi mereka yang mempunyai hubungan darah dengan keluarga berbagai kerajaan di Nusantara. Karena, kaum Arab-Hadrami pada masa ini kebanyakan menikahi puteri-puteri raja setempat yang kemudian mendapatkan kekuasaan yang cukup signifikan pada saat itu. Diantara mereka adalah para wali yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai penjuru di Nusantara. Mereka ialah kaum Sayyid (Alawiyyin; keturunan Rasulullah SAW) Hadramaut. Wali Songo dan beberapa walinya mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah SAW, seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Waliyullah, Sunan Puger, Sunan Kalimanyat, Sunan Pakuan, Sunan Tembayat, Sunan Pakala Nagka, Sunan Geseng, dan lain-lain. Sedangkan mengenai Sunan Kalijaga, terdapat dua versi, antara keturunan Jawa asli dan keturunan Arab yang bersambung pada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib. Kenyataannya, banyak orang-orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa mereka masih memiliki hubungan darah dengan mereka semua di atas.

Yang kedua, ialah orang-orang Arab-Hadrami yang bermigrasi besar-besaran pada abad ke-17 hingga abad ke-20. Pada frekuensi kedua ini, kedatangan mereka lebih dipacu oleh keinginan untuk berdagang, menyebarkan agama Islam dan mencari tempat tinggal baru. Bisri Affandi secara lebi detail menjelaskan, bahwa arus migrasi besar-besaran ke Nusantara ini disebabkan tiga faktor: (1) kesulitan faktor ekonomi di Hadramaut (2) mudahnya sarana Transportasi (3) kebijakan ekonomi pemerintah Belanda yang menjadikan kaum minoritas Arab dan Cina sebagai perantara perdagangan internasional.

Pada penghujung dua abad terakhir, yaitu abad ke-19 dan awal abad ke-20, meskipun mempunyai pola integrasi sosial yang sama dengan sebelumnya, yaitu menikahi wanita-wanita pribumi, orang-orang Arab-Hadrami kebanyakan cenderung lebih memilih untuk menjaga ‘keutuhan’ identitas mereka sebagai orang Arab-Hadramaut. Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang bestatus sebagai golongan Sayyid. Di tempat asalnya, Hadramaut, golongan Sayyid atau Alawiyyin ini menempati kedudukan sosial yang tertinggi karena mempunyai darah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Ahmad bin Isa Al-Muhajir, salah satu tradisinya ialah mereka melarang menikahi wanita-wanita mereka dengan yang non-Sayyid, karena kedudukan nasab mereka (kafa’ah nasab) jauh lebih tinggi dibandingkan nasab manapun juga. Dan tradisi ini terus mereka bawa ke Indonesia dan masih terus dipraktekkan.

Peranan Sosial-Politik kaum keturunan Arab-Hadrami di Indonesia

Pada era-pertama, mereka sangat berperan dalam menstabilkan sistem kerajaan Islam pertama di Nusantara, seperti didirikannya keraajan Samudera Pasai (Pertengahan abad ke-13 M) di Aceh Utara dengan raja pertamanya Sultan Malikush Shaleh yang masuk Islam karena pertemuannya Syekh Ismail, seorang Syarif dari Mekah dan kerajaan Islam Demak di Jawa dengan raja pertama yang bernama Raden Fatah (Djin Bun), yang merupakan menantu dari Sunan Ampel dan putera Raja Majapahit. Kemudian, Ki Ageng Pamanahan putera Ki Ageng Ngenis, yang masih keturunan Raden Fatah ini meneruskan perjuangannya dengan mendirikan Kerajaan Islam baru, yaitu kerajaan Mataram, dengan raja pertamanya, Sutawijaya atau lebih dikenal dengan Panembahan Senopati.

Di Jawa Barat, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), putera dari Sayyid di Mesir, Abdullah dan cucu dari raja Sunda, Prabu Siliwangi, membantu Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan Cirebon. Syekh Datuk Kahfi, seorang Ulama Besar dan penyebar ajaran Islam di Amparan Jati, juga merupakan cicit dari Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan) dari India, cucunya, Pangeran Santri, menjadi penguasa di Kerajaan Sumedang Larang bekerja sama dengan istrinya, Ratu Pucuk Umun menyebarkan Islam di tanah Sumedang (Sunda) yang kemudian diteruskan oleh puteranya, Prabu Geusan Ulun. Kemudian, Sultan Hasanuddin, putera Syarif Hidayatullah, mendirikan kerajaan Islam di Banten.

Kebanyakan cucu-cucu Rasulullah SAW lewat garis keturunan mereka telah berasimilasi penuh dengan penduduk setempat, berbeda dengan mereka yang baru datang para abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Kebanyakan keturunan Arab-Hadrami yang masih ada hingga sekarang di Indonesia adalah peranakan (muwallad) Arab, meskipun ibunya atau neneknya seorang Melayu, mereka tetap cenderung menjaga identitas ‘ke-Araban’ mereka dengan menikahi sesama muwallad lainnya. Hal ini terutama dilakukan oleh golongan Sayyid. Van den Berg menjelaskan:

“Anak-anak perempuan seorang Sayyid tidak boleh menikah dengan lelaki yang bukan golongan Sayyid, Kepala suku yang paling kuat sekalipun tidak dapat menikah dengan anak perempuan dari Sayyid dengan tingkatan yang paling rendah. Namun, seorang Sayid dapat menikah dengan siapapun yang ia sukai.”

Arah-arah menuju Modernisasi: Jamiat Khayr dan Al-Irsyad

Pada akhir abad ke-19, pemikiran pembaharuan Islam Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mempengaruhi banyak sarjana Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan kebodohan. Pemikiran para pembaharu ini menitik beratkan pada upaya pembaharuan dalam bidang agama, pendidikan dan politik. Selain untuk menghacurkan praktek bid’ah dan khurafat, pembaharuan yang diserukan oleh Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh lewat majalah Al-Manar ini menitik beratkan pada pentingnya pembangunan pendidikan. Karena melalui pendidikan inilah, umat muslim bisa terbebas dari belenggu keterbalakangan dan kebodohan.

Yayasan yang menggunakan pendekatan modern ini antara lain ialah Jamiat Khayr , yang didirikan secara resmi oleh Muhammad Al-Fakhir, Idrus bin Ahmad bin Syihabuddin dan Muhammad bin Abdullah bin Syihabuddin dan Sayid Syehan bin Syihab pada tahun 1903 di Batavia (Jakarta). Yayasan pendidikan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam, ditujukan untuk umum, meskipun kebanyakan murid dan anggotanya terdiri dari orang-orang keturunan Arab. Pada tahun 1911, Jamiat Khayr mengundang tiga sarjana muslim terkemuka dari Arab, yaitu Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekah dan yang terakhir, Syekh Ahmad Soorkati dari Sudan yang kemudian terkenal aktif, gigih dan menonjol dalam mendidik kader-kader muslim di sekolah tersebut.

Pada tahun 1913, di Solo, Syekh Ahmad Soorkati mengeluarkan fatwa yang membolehkan gadis keturunan Alawi (Syarifah) menikah dengan pria bukan keturunan Alawi (non-Sayyid). Fatwa ini membuat berang hampir seluruh kaum Arab-Hadrami dari golongan Alawi (sayyid) di Indonesia yang pada akhirnya menjadikan mereka membenci Soorkati. Hal ini karena fatwa yang dikeluarkannya sangat bertentangan dengan ijtihad kebanyakan para ulama dari golongan Alawi di tempat asalnya, Hadramaut. Dengan kata lain, Soorkati menolak pemahaman sistem pernikahan yang didasarkan pada kafaah nasab seperti yang diyakini kaum Alawi. Bahwa Islam sama sekali tidak menerapkan rasialisme dan superioritas kesukuan dalam hal pernikahan. Tidak ada yang lebih tinggi derajat orang Arab dengan mereka yang non-Arab, hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dan Al-Qur’an di surat Al-Hujuraat ayat 13.

Setelah dikucilkan oleh rekan-rekannya dari golongan Alawi, Syekh Soorkati dan kawan-kawan dekatnya mengundurkan diri dari Jamiat Khayr pada tahun 1913. Sedangkan kelompok Arab non-Alawi (golongan Syaikh) memberikan simpati kepada Syekh Soorkati dan membujuknya untuk mengajar di madrasah yang mereka dirikan. Pada tahun 1914, Syekh Soorkati memberi nama sekolah itu dengan Madrasah Al-Irsyad al-Islamiyyah. Madrasah ini dinaungi oleh sebuah Jam’iyah bernama Jam’iyat al-Islah aw al-Irsyad al-Arabiyyah. Selanjutnya para pengikut Ahmad Soorkati yang mayoritas dari penduduk setempat dan Arab-Hadrami non-Sayyid ini (masyaikh) disebut sebagai kaum al-Irsyadi. Meskipun antara golongan Arab Alawi dan Irsyadi terjadi permusuhan yang hebat akibat fatwa tersebut. Namun, tidak semua golongan Alawi membenci Soorkati dan kaum Irsyadi, Sayyid Abdullah bin Alwi Alattas, seorang Intelektual Arab dan pedagang kaya dari golongan Alawi justru tetap menjaga persahabatannya dengan Soorkati, ia juga memberi F 60.000 kepada yayasan Al-Irsyad di awal pendiriannya untuk membangun lebih baik lagi pendidikan yang digagas oleh Al-Irsyad.

Harapan baru keturunan Arab-Hadrami: Partai Arab Indonesia

Upaya persatuan kembali masyarakat Arab di Indonesia setelah perpecahan yang menyakitkan ini terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari golongan sayyid maupun masyaikh. Raja Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud pun pernah ikut turun tangan, namun semua usaha yang pernah ada hanya menemui kegagalan.

Setelah melewati berbagai upaya rekonsiliasi, pada tanggal 4 Oktober 1934, upaya persatuan dan perdamaian masyarakat Arab di Indonesia ini mendapatkan titik cerah dari ide seorang nasionalis muda yang juga wartawan peranakan Arab (muwallad) yang bernama AR Baswedan. Saat itu ia mengumpulkan seluruh pemuka keturunan Arab Indonesia dan mengikrarkan ‘Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab’. Isi ikrar itu ialah mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, menjauhi isolasi diri, dan memenuhi kewajiban sebagai warga negara Indonesia serta membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Ikrar ini kemudian yang melahirkan Partai Arab Indonesia (PAI) di tahun 1940. Setahun kemudian, PAI kemudian diakui sebagai anggota Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia (GAPPI) menuntut Indonesia berparlemen. Persoalan tafadul yang didasarkan pada keturunan di kalangan masyarakat Arab Indonesia akhirnya berhasil diakhiri. Sejak saat itu, mereka diharuskan untuk memanggil sesamanya dengan Al-Akh, yang artinya ‘saudara’.

Meskipun perjuangan PAI untuk tidak lagi mempersoalkan ke’arab’an mereka di tengah kehidupan bernegara di Indonesia, kenyataannya, baik keluarga Arab yang sayyid maupun non-sayyid, mereka tetap jarang menikahkan anak-anak mereka dengan orang pribumi. Mereka tetap menikahkan putera-puteri mereka dengan sesama mereka sendiri yang berketurunan Arab. Hanya sedikit aktivis PAI yang mau menerima orang Indonesia sebagai menantu. Hamid Al-Gadri adalah diantaranya. Sedangkan seluruh putera-puteri AR Baswedan sendiri tetap menikah dengan keturunan Indonesia-Arab (muwallad), kecuali seorang cucunya perempuannya yang menikah dengan lelaki dari suku Jawa.

Mengapa status sosial itu penting?

Indonesia secara sosio-historis dibangun di atas fondasi feodalisme yang sangat kuat. Dimana status sosial seseorang lebih banyak dinilai dari given status dibandingkan achieved status. Contohnya adalah keistimewaan masyarakat Jawa jika ia berasal dari keluarga ningrat, otomatis ia akan menggunakan gelar Raden dan semacamnya, sehingga ia akan dihormati oleh penduduk setempat sebagai seorang bangsawan, meskipun ia tidak berbuat banyak untuk pembangunan bangsanya. Sama halnya dengan gelar Sayyid, pada masa kolonial Belanda, gelar Sayyid merupakan gelar yang sangat disegani oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan hukum yang didasarkan pada latar belakang ras penduduknya, yaitu (1) kelompok Eropa sebagai kelompok tertinggi (2) Timur Asing, diantaranya Cina, Arab, India, Melayu, dsb. Sebagai kelompok tertinggi kedua dan (3) kelompok pribumi, sebagai kelompok yang paling rendah. Jadi, mana ada orang yang tadinya berada pada di posisi teratas ingin berubah berada di posisi terbawah?

Selain itu, sebagian besar masyarakat Arab-Hadrami dari golongan Alawi mempunyai alasan agama dari ulama Salaf dari kalangan mereka sendiri mengenai persoalan menjaga identitas ke-sayyid-an atau ke-Araban mereka, terutama pada masalah kafaah yang didasarkan pada darah keturunan (nasab). Meskipun, pengertian kafaah ini memiliki banyak perbedaan satu sama lainnya, baik dalam pandangan Mazhab Sunni maupun Syi’ah.

Pola Akulturasi dan Asimilasi

Hingga saat ini, banyak dari keturunan Arab-Hadrami masih merasa bangga untuk menjaga identitas ke-Arab-an mereka meskipun mereka terlahir di Indonesia setelah berpuluh-puluh tahun, tidak bisa berbahasa Arab sama sekali dan meskipun mereka sudah hidup seperti orang Barat. Mereka menjadi menciptakan semacam kelas sosial khusus yang eksklusif dan kadangkala menutup pergaulan dengan yang bukan keturunan Arab. Diantara mereka banyak juga yang tidak terlalu mengistimewakan ke-‘Arab’an mereka dan cenderung lebih terbuka untuk bergaul dengan mereka yang bukan keturunan Arab, bahkan keturunan Arab di Kedah, Malaysia mereka lebih suka disebut sebagai orang Melayu dibandingkan disebut orang Arab. Dan di sisi lain juga, banyak sekali keturunan Arab-Hadrami di Indonesia dan Malaysia yang sudah secara penuh berasimilasi dengan penduduk setempat berabad-abad, tidak lagi mempedulikan tradisi feodalistik tersebut. Diantara mereka, meskipun telah berasimilasi penuh, mereka tetap mengetahui asal-usul moyang mereka berikut memiliki silsilah lengkapnya, dan di saat yang sama, diantara mereka ada juga yang tidak mengetahui asal-usul nenek moyang mereka sama sekali.

Bagi mereka yang berasimilasi penuh melalui pernikahan dengan orang-orang Indonesia, baik lelaki maupun perempuan, biasanya mereka mengganti nama mereka dengan nama-nama yang biasa dipakai oleh masyarakat pribumi. Kadangkala, diantara mereka ada juga yang mencampurkan nama Arab dan nama asli pribumi. Pada umumnya, banyak diantara mereka yang mendapat kesulitan untuk mendapatkan restu dari orang tua mereka untuk menikah dengan yang bukan Arab, namun pada akhirnya tidak menjadi masalah, malah mereka tetap berhubungan baik dengan sanak saudaranya sebagaimana sebelum pernikahan. Wajah-wajah peranakan Arab ini kebanyakan sudah sama sekali tidak mirip dengan orang Arab, sebaliknya, mereka sudah sangat berwajah Indonesia, Cina atau Melayu.

Penutup

Hingga saat sekarang ini, banyak sekali diantara mereka yang masih menjalankan tradisi mereka tapi tanpa tahu sama sekali alasan sesungguhnya kenapa mereka mesti melakukan itu. Seolah-olah tradisi ini ‘mengkristal’ dalam setiap tubuh dan jiwa mereka. Dan inilah yang menjadi masalah pada umumnya bagi keturunan Arab yang menghendaki perubahan. Baik keturunan Arab-hadrami di Indonesia, Malaysia, India dan Singapura, mereka mengakui bahwa Globalisasi sudah merubah pola kehidupan masyarakat secara luas dan semakin menuntut mereka untuk terbuka dengan berbagai perubahan nilai dan kehidupan sosial. Mereka terjebak dalam sebuah dilema antara mengikuti tradisi lama dan perubahan yang radikal.

Konferensi Internasional yang diadakan Departemen Sejarah dan Peradaban (History and Civilization) International Islamic University Malaysia pada 26-28 Agutus 2005 yang lalu membahas persoalan ini. Para akademisi, peneliti dan ulama dari tiga puluh negara berkumpul dan bertukar pikiran mengenai perkembangan masyarakat Arab-Hadrami di Asia Tenggara. Diantara mereka yang berpartisipasi dari Indonesia adalah Alwi Alatas, mahasiswa pasca Sarjana jurusan Sejarah IIUM, Umar Faridz El-Hamdy, mahasiswa Sarjana jurusan Ilmu Politik di IIUM, keduanya menjadi pembicara dalam konferensi tersebut dan saya pribadi, Hikmawan Saefullah, yang hanya menjadi kandidat pembicara karena keterlambatan Informasi.

Dalam konferensi yang dibuka oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Syed Hamid Albar dan Duta Besar Republik Yaman untuk Malaysia, Dr. Nasser. A. Al-Munibari, hadir juga para pakar studi Oriental seperti Prof. Dr. Ulrike Freitag, Prof. William R. Rolff. Para Ilmuwan dan sarjana sosial dari kalangan Sayyid dan masyaikh pun ikut hadir dalam konferensi ini. Namun, sayang, diantara mereka tidak ada satupun yang membahas persoalan utamanya, yaitu antara pilihan menjaga identitas sebagai keturunan Arab-Hadrami atau berasimilasi penuh? Padahal, banyak sekali diantara mereka, sama seperti di Indonesia, yang mempertanyakan persoalan itu.

Yang pasti, dalam menghadapi setiap zaman, diperlukan suatu pendekatanbaru yang mesti dilakukan oleh setiap komunitas masyarakat, tanpa terkecuali masyarakat keturunan Arab-Hadrami. Di era Globalisasi ini, tampaknya persoalan identitas sosial seperti di atas sudah semakin tidak relevan, sebaliknya, ia semakin menuntut integritas seluruh umat manusia, baik yang muslim maupun non-muslim, yang arab maupun non-Arab untuk bersatu dan bekerja sama dalam menciptakan bangsa yang bermoral tinggi, kerja keras, rendah hati, kreatif dan inovatif sebagai upaya untuk menciptakan negara Indonesia yang mampu memberikan masa depan yang baik untuk anak dan cucu kita semua di masa yang akan mendatang. Dan bukankah ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW? Yaitu untuk menyatukan seluruh umat manusia di bawah satu naungan ajaran perdamaian yang egaliter tanpa harus membeda-bedakan latar belakang ras, suku bangsa, bahasa dan budayanya masing-masing?

Sumber Referensi:

AbuShouq, Ahmed Ibrahim (2005): Al-Manar and the Hadrami Elite in Malay-Indonesian World: Challange and Response

Affandi, Bisri (1999): Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943), Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta. Pustaka Al-Kautsar

Al-Husaini, AL-Hamid (1996): Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah. Penerbit Yayasan Al-Hamidy.

Alattas, Alwi (2005): Pan-Islamism and Islamic Resurgence in the Netherlands East Indies: The Role of Abdullah ibn Alwi Al-Attas (1840-1928)

Assagaaf, M. Hasyim (2000): Derita Puteri-puteri Nabi, Studi Historis Kafaah Syarifah. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Ensiklopedi Islam (1994) PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta

Hassan, Sharifah Zaleha Syed (2005): History and Indigenization of the Arabs in Kedah, Malaysia

Iskandar, Yoseph (1997): Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Penerbit CV Geger Sunten, Bandung

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s