Wasiat Sayyidah Fathimah

Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
sumber http://www.almanhaj.or.id

“Artinya : Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang
dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu
dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya.
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan
kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala
itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau
berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga
aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau
berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari
pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka
bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan
bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada
seorang pembantu”. [1]

Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci,
Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita
mempelajari apa yang bermanfa’at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari
wasiat ini.

Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya,
berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling.
Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak
mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu
Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah
mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai
beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi
tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada
orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan
makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke
rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau
masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala
beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata.
“Tetaplah engkau di tempatmu”. “Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau
datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?”.

Fathimah menjawab.”Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah
datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu
untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat
bagiku”.

Beliau berkata. “mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai
atau lebih baik dari hal itu ?”. Kemudian beliau memberi isyarat kepada
keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada
Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan
kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu
daripada seorang pembantu”.

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini
dikatakan Ibnu Abi Laila. “Ali berkata, ‘Semenjak aku mendengar dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu”.

Ada yang bertanya. “Tidak pula pada malam perang Shiffin ?”.

Ali menjawab. “Tidak pula pada malam perang Shiffin”. [2]

Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta
Fathimah dan dzikir ?

Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran
yang benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang
yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang
tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah.

[1]. Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
[2]. Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
[3]. Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
[4]. Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.

Boleh jadi engkau juga bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa
dibaca sebelum tidur selain ini. Lalu mana yang lebih utama .? Pertanyaan
ini dijawab oleh Al-Qady Iyadh : “Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam beberapa dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih
menurut kondisi, situasi dan orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir
itu terdapat keutamaan”.

Secara umum wasiat ini mempunyai faidah yang agung dan banyak manfaat serta
kebaikannya. Inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama :

Pertama.
Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan
kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada
kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah.
Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya,
bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi
keduanya.

Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa
berlaku jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan
dalam pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para
tawanan itu untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak
ada sisi pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama
daripada orang kaya.

Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh
berkata. “Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat
lebih utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau
membatasi pada hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk
memberikan pembantu. Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa
mendatangkan pahala yang lebih utama daripada apa yang diminta keduanya”.

Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia
menjadi pengganti dari do’a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena
itulah yang lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih
beliau sukai bagi dirinya, sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan
kesabaran, dan yang lebih penting lagi, karena berharap mendapat pahala.

Kedua.
Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu daripada
yang lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.

Ketiga.
Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih
mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan
untuk itu.

Keempat.
Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.

Kelima.
Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas
para nabi dan walinya.

Keenam.
Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak putri dan
menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada posisi
berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia di
antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu
yang diminta.

Ketujuh.
Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa letih.
Sebab Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir
itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata.
“Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi
hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan merasa
mendapat madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit,
meskipun rasa letih itu tetap ada”.

Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah,
yaitu berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi
dan istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti
dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau
tidak menirunya ?

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid
Ibrahim, Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
__________
Foote Note
[1] Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud
hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy
7/293
[2] Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah
perang antara pihak Ali dan Mu’awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak
dan Syam. Kedua belah pihak berada di sana beberapa bulan

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s