Leadership Nabi Muhammad


Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

Berhasil tidaknya kepemimpinan seseorang dapat ditandai dengan sejauh mana nilai-nilai kasih sayang yang ditanamkannya untuk rakyat.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya‘ ayat 107).

Berhasil tidaknya kepemimpinan seseorang dapat ditandai dengan sejauh mana nilai-nilai kasih sayang yang ditanamkannya untuk rakyat. Barometernya dapat diukur melalui respon yang diberikan oleh pemimpin terhadap penderitaan rakyatnya. Selain itu, dapat juga dilihat melalui antusiasnya menggiring rakyat untuk menuju kehidupan yang sempurna.

Pemimpin yang memiliki jiwa kasih sayang akan selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Melalui prinsip ini maka antara pemimpin dan rakyat akan seia-sekata dalam membawa negara menuju cita-cita luhurnya. Berdasarkan sifat ini pula maka pemimpin dan rakyat akan berani berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya.

Adapun pemimpin yang berani melakukan tindakan yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat seperti korupsi, membeking tindakan-tindakan spekulan dan lain-lain adalah ciri dari pemimpin yang nihil dari sifat kasih sayang. Pemimpin yang seperti ini tidak akan mampu berbuat banyak untuk kepentingan rakyat dan bahkan rakyat pulalah yang selalu menjadi korban dari kebijakannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa pengutusan Nabi Muhammad adalah membawa rahmat bagi sekalian alam. Maknanya ialah bahwa rahmat yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, bahkan makhluk-makhluk yang lainpun turut merasakan arti kasih sayang dari Nabi Muhammad. Pola kepemimpinan yang berbasis kasih sayang seperti Nabi Muhammad inilah yang sudah kita rindukan selama berabad-abad.

Kesuksesan yang diraih oleh Nabi Muhammad selama kepemimpinannya diduga kuat karena pola yang dibangunnya berbasis kasih sayang. Ketika pola ini dipublikasikan, maka orang-orang yang dekat dengannya berani mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Tentu saja antusias ini diawali dari bobroknya moral pemimpin yang selama ini mengurusi mereka. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ini memang sudah wajib untuk dicontoh karena banyaknya rakyat yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dibuat oleh pemimpinnya. Beda halnya dengan Nabi Muhammad dimana kepemimpinannya selalu diidolakan oleh rakyat dan hanya orang-orang yang berpikiran jelek sajalah yang menantang pola kepemimpinan yang seperti ini.

Nilai-nilai Kasih Sayang dalam Kepemimpinan Nabi Muhammad
Gambaran kepemimpinan Nabi Muhammad yang diekspose oleh orang-orang yang tidak memahaminya, seperti alQur‘an di tangan kiri dan pedang ditangan kanan, sama sekali tidak mengurangi nilai-nilai kasih sayang pada kepemimpinan Nabi Muhammad. Hal ini sangat tergantung dari sisi mana seseorang melakukan penilaian, bahkan gambaran seperti ini menunjukkan betapa tidak ragu-ragunya Nabi Muhammad dalam menegakkan suara kebenaran.

Banyaknya perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sedikitpun tidak mencederai nilai-nilai kasih sayang dalam kepemimpinannya. Hal ini dilakukan oleh beliau karena panggilan kasih sayang itu sendiri lantaran banyak rakyat yang tertindas karena ulah kezaliman pemimpinnya. Dengan kata lain, perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad karena munculnya kezaliman di masyarakat. Bila orang-orang yang anti kepada Nabi Muhammad menyatakan bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang haus perang, sedangkan Allah memberikan sanjungan karena kasih sayangnya, maka secara otomatis pernyataan Allah lebih patut untuk diperpegangi. Oleh karena itu, sedikitpun tidak ada rasa kekhawatiran dari gambaran yang dibuat oleh orang-orang yang memang dasarnya sinis.

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad telah berhasil menanamkan nilai-nilai kasih sayang di era kepemimpinannya. Pemimpin-pemimpin Quraisy yang dulunya dikenal dengan kebengisan dan tidak berprikemanusiaan akhirnya tunduk di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Sikap ini perlu juga menjadi perhatian pemimpin pada saat ini, dimana setiap pendekatan yang dilakukan tidak mesti harus menggunakan ‘tangan besi’. Pengembangan pembangunan meskipun juga untuk kepentingan rakyat seperti pelebaran jalan dan lain-lain harus dikomunikasikan dengan nilai-nilai kasih sayang. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, maka rakyatpun tidak akan pernah merasa keberatan jika harta bendanya tergusur, dan bahkan mereka merasa bangga telah dapat berkorban untuk kepentingan negaranya.

Ketika nilai-nilai kasih sayang ini ternafi dalam kehidupan pemimpin maka terjadilah ketidakpuasan di tengah-tengah rakyat. Upaya yang seperti ini juga pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad, akan tetapi tidak ada yang namanya protes, bahkan yang terjadi sebaliknya di mana rakyat ramai-ramai menyumbangkan apa yang mereka miliki. Kejadian yang seperti ini tentu saja diawali dari watak pemimpinnya yang selalu mengedepankan prinsip dan nilai-nilai kasih sayang. Nilai-nilai kasih sayang Nabi Muhammad ini tidak datang secara spontanitas, akan tetapi sudah ada sebelum beliau menjadi pemimpin. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad menerapkan pola kasih sayang ini, maka tidak ada satupun yang mencurigainya.

Berlainan halnya dengan kondisi sekarang yang bagaimanapun upaya pemimpin untuk menerapkan nilai-nilai kasih sayang tersebut, tetap saja dicurigai oleh rakyat. Hal ini sangat beralasan karena pemimpin yang bersangkutan tidak biasa-biasanya melakukan hal yang seperti itu kecuali jika memang ada maunya, terlebih lagi jika hendak menghadapi musim pilkada tiba. Penggunaan pola kasih sayang dalam kepemimpinan Nabi Muhammad diawali dengan kecerdasannya menangkap nilai-nilai kasih sayang Allah. Kedekatannya dengan Allah membuatnya tidak canggung melakukan pola kasih sayang ini, sehingga makhluk-mahkluk yang lainpun dapat merasakan bahwa kepemimpinan Nabi Muhammad benar-benar membawa rahmat.

Pola kasih sayang yang diterapkan oleh Nabi Muhammad ini membuat namanya diabadikan Allah dalam al-Qur‘an sebagai sosok pemimpin yang membawa rahmat. Artinya, tidak ada seorangpun yang merasakan bahwa pola kepemimpinan Nabi Muhammad ini merugikan rakyat dan bahkan mereka merasa terlindungi dengan kehadiran beliau. Berdasarkan uraian di atas maka pola kepemimpinan yang menerapkan nilai-nilai kasih sayang akan mudah diterima oleh rakyat. Implikasi yang mudah dirasakan adalah munculnya semangat bersama untuk memajukan bangsa dan negara bersama-sama rakyat. Bila hal ini terealisasi, maka setiap kebijakan yang dilakukan senantiasa mendapat dukungan yang signifikan.

Ungkapan al-Qur‘an terhadap pola kepemipinan Nabi Muhammad di atas adalah sebagai contoh riil dari pemimpin yang sukses. Untuk mencontoh pola yang seperti ini, diperlukan kecerdasan dalam membaca tanda-tanda zaman karena rakyat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad berbeda jauh dengan rakyat yang dihadapi pada masa sekarang. Oleh karena itu, yang patut untuk dilakukan adalah mengkaji nilai-nilai filosopis yang terkandung dalam pola kasih sayang kepemimpinan Nabi Muhammad. Bila hal ini dilakukan maka muncullah pemimpin-pemimpin yang benar-benar berjiwa qur‘ani bukan hanya sekadar pandai membaca al-Qur‘an. Dampak yang akan dirasakan adalah bersatunya pemimpin dan rakyat di bawah panji-panji kasih sayang sehingga berpadu dalam kesenangan dan penderitaan.

Penutup
Kepemimpinan yang membawa manfaat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kasih sayang yang diembannya sehingga penerapan nilai-nilai inilah yang selalu membuat sosok kepemimpinan seseorang melegendaris dalam kehidupan. Sebaliknya bagi yang kurang menerapkan nilai-nilai kasih sayang akan selalu membawa dampak negatif dan bahkan tidak jarang masyarakat menyumpahserapahinya, dan akhirnya pemimpin tersebut menyudahi masa kepemimpinannya secara tragis.

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s