TERJEMAHAN MANAQIB AL – HABIB YUSUF BIN ALI AL – ANQAWI

TERJEMAHAN MANAQIB AL – HABIB YUSUF BIN ALI AL – ANQAWI
WAFAT DI TALANGO, SUMENEP, PULAU MADURA

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA
PENYAYANG.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada para walinya, dan yang telah memberikan ilham kepada mereka kalimat kebenaran, dan sholawat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad, penghulu semua utusan dan juga kepada keluarga beliau yang suci dan kepada para sahabat beliau sebagaipetunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa dan juga kepada pengikut –pengikut meraka sampai hari kiamat. Amma Ba’du :

Sungguh rahmat Allah akan turun ketika memperingati acara HAUL para walinya dan para sholihin dan sungguh ketenangan akan selalu tercurah pada para yang hadir dan yang merayakannya. Maka kami ingin sekali menceritakan pada mereka tentang seorang “ SAYYID “ yang sedang dirayakan ini, agar supaya menjadi peringatan bagi orang – orang yang akan datang, demi mengamalkan sebuah hadits, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “ sebutkanlah oleh kalian kebaikan – kebaikan orang yang mati diantara kalian dan pendamlah kejelekan – kejelekan mereka “ maka dengan hadits ini maka mensunnahkan ulama mengadakan peringatan wafatnya para wali dan para sholihin yang mereka namakan HAUL tiap hari dan menceritakan / membacakan didalamnya manaqip tiap – tiap wali yang terkenal dengan ilmunya, kebaikannya, wara’nya dan taqwanya dari keadaan – keadaan mereka yang agung serta bukti – bukti yang besar ( kekeramatan ) dari

para wali Allah yang sholeh agar supaya mereka dijadikan contoh oleh manusia dari puncak timur dan barat atau agar menjadi suri tauladan yang baik bagi makhluk – makhluk yang akan datang. Maka juga adanya SAYYID YUSUF ini juga dijadikan contoh bagi mereka. Adalah Sayyid Yusuf ini termasuk salah seorang wali Allah yang mempunyai sifat – sifat dengan sifat – sifat yang agung dan sifat-sifat yang baik dan beliau adalah seorang imam Al – Arif Billah Al-Alim Al- Allamah yang mempunyai habar-habar yang dapat dipahami, lisan kebenaran yang kembali pada penelitian dalam hakikat, dan laut penelitian yang belum pernah meninggalkan sesuatu yang muskil, yang mempunyai lidah terjemah, seorang wali kutub Assulton Al-Waliyul khair Al-qihaust yang terkenal dengan banyak kekeramatan dan bukti, yaitu Jamaluddin Abul Mahasin Yusuf bin Ali bin Abdullah bin Jarullah Abdul Aziz bin Muhammad bin Athifah bin Abi Dzabih Muhammad bin Abi Nami bin Hasan bin Ali bin Qafadah bin Idris bin Mutha’in bin Abdul Karim bin Isa bin Husin bin Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Imam Muhammad Ats-Tsa-ir bin Musa bin Abdullah Al-kiram bin Musa Al-jaun bin Imam Abdullah Al-kamil bin Imam Husin Al-Mutsanni bin Imam Hasan As-sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib. Adanya beliau dilahirkan di Mekkah Almukarromah pada malam sabtu tanggal 12 Jumadil Ula tahun 1198 Hijriyah dan beliau dibesarkan dan menuntut ilmu dimekkah dan belajar Al-qur’an pada Syeh Ahmad bin Muhammad Al-halwani di Damaskus, seorang Syeh / guru Qurra’ di Masjidil Haram, dan beliau belajar Fiqih pada seorang Faqih ( ahli fiqih ) : Adullah bin Abdurrahman Assiraj Alhanafi dan belajar hadits pada seorang ahli hadits : Ali bin Abdullah Al-qal’iy dan juga pada Sayyid Ali bin Abdul Bar Al-Wana-i Al-hasani dan juga pada Syeh Ahmad bin Ubaid Al-atthar dari Damaskus, kemudian beliau pergi ke Yaman dan banyak belajar disana dari ulama-ulama besar kemudian beliau belajar dari Sayyid Ahmad bin Muhammad seorang Maqbul yang berlabuh dan Sayyid Abdur
Razzaq Al-Bakkari dan Sayyid Abdul Qasim bin Sulaiman Al-hajjam. Dan kemudian beliau berlayar ke India kemudian kembali lagi ke Mekkah dan belajar disana pada seorang ahli Fiqih, Al-faqih Ibrahim bin Ahmad Alkhatib, kemudian berjumpa juga di Mekkah dengan Habib Hamid bin Alwi Al Haddad kemudian oleh Habib Hamid beliau dibawa ke Palembang
kemudian bersahabat dengan Habib Abdurrahman bin Husin bin Hasan bin Alwi bin Ahmad Al-idrus yang terkenal dengan seorang yang mempunyai banyak kekuasaan, yang wafat di Palembang pada tahun 1211 Hijriyah dan Habib Alwi bin Ahmad Al Kaf. Kemudian beliau menetap di Palembang beberapa lama kemudian beliau dimulyakan oleh Sultan Ahmad Najmuddin dan beliau dikawinkan dengan salah seorang wanita yang mulya, dan beliau dikaruniai beberapa orang anak, yang diantara mereka ada yang bernama Muhammad, beliau seorang yang alim, yang mulya, yang shaleh, banyak shalat dan wiridnya, mempunyai banyak kekeramatan yang diluar kebiasaan dan tampak kasyafnya, berbicara tentang lintasan-lintasan hati dan menghabarkan tentang apa yang ada dalam hati, beliau juga berbudi luhur dan adab yang sopan, sangat dermawan, mencintai orang yang faqir dan miskin dan para sholihin dan banyak membantu mereka dan banyak memberikan sedekah baik pada kerabat dekat dan jauh dan beliau banyak mengadakan perjalanan dan beliau selalu menutup diri dengan lain. Kemudian beliau dari Palembang pergi ke Surabaya, kemudian beliau tinggal dirumah Habib Al Matsri Agil bin Idrus bin Agil, kemudian beliau pergi ke Madura dan tinggal dengan Sultan Abdurrahman bin Muhammad Jabir Raja Sumenep, kemudian beliau pergi ke Bangkalan dan beliau di mulyakan disana. Dan adanya beliau r.a seorang yang alim, tawadhu’, berwibawa disisi Raja-raja dan pemimpin-pemimpin, tembus perkataan, baik dalam berpolitik dan pengaturan, kesatria dan juga berjiwa mulia, lalu beliau wafat di Telango salah satu pulau di Madura pada malam senin tanggal 15 Rabiul Akhir tahun 1252 Hijriyah.

Beliau meninggalkan beberapa orang putra mudah-mudahan Allah meridhai beliau, dan memberikan rahmatnya sebagaimana yang telah diberikannya pada orang-orang yang baik dan menempatkan beliau di dalam surganya bersama ulama-ulama salaf yang baik. Amin.
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmatnya pada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya. Amin-amin-amin Ya Rubbal Alamin.

Manaqib ini diterjemahkan
Oleh Al Faqir Ahmad Lutfi
bin Umar Bahabazy
dari karya :
( yang menulis manaqib ini )
1.) Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan.
2.) Habib Alwi bin Abi Bakria bin Bil Faqqi.

Posted in Sejarah | Leave a comment

MELURUSKAN SEJARAH TENTANG RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK)

Oleh: As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini

SUMBER DATA RADEN FATTAH MENURUT PARA ULAMA’ DAN HABAIB
[Data Sejarah Dari Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar dan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi]

Sumber data yang benar dan disepakati oleh para Ulama’ Islam adalah bahwa
1. Raden Fattah adalah murid dan menantu Sunan Ampel
2. Raden Fattah adalah Sayyid.

Bukti kesayyidan Raden Fattah, adalah:
1. Dinikahkan dengan Syarifah Asyiqah binti Sunan Ampel. Dalam perspektif Fiqih Munakahat dan Kafa’ah Syarifah. Maka seorang Syarifah hanya pantas menikah dengan sayyid. Mengenai hal ini para ulama’ 4 Madzhab sepakat, bahwa Syarifah seharusnya menikah dengan sayyid.

2. Berdasarkan beberapa kesaksian dari para ulama’ dan habaib. dijelaskan bahwa:Menurut Sayyid Bahruddin Ba’alawi, dan juga almarhum Habib Muhsin Alhaddar dan Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar Banyuwangi menjelaskan bahwa Silsilah Raden Fattah mengalami pemutar balikan sejarah. Tokoh orientalis yang telah memutarbalikkan sejarah dan nasab Kesultanan Demak adalah Barros, Tome Pirres, Hendrik De Lame. Mereka ini adalah Orientalis Belanda yang berfaham Zionis.

Ayah Raden Fattah adalah Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam ) ibni Jamaluddin Al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammad Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .

Ayah Raden Patah yaitu Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) ini menikah dengan Putri Brawijaya V (Bhre Kertabhumi).

Jadi pernikahan ini sesuai dengan Syariat Islam, karena seorang sayyid yaitu Sultan Abu Abdullah menikahi putri Brawijaya dan mengislamkannya.

Panggilan putra Brawijaya terhadap Raden Pattah. bukan berarti dalam arti anak. tetapi dalam bahasa JAWA …Putra dipakai untuk memanggil anak, cucu, cicit dan keturunan.

Dalam Catatan beberapa Rabitah yang ada di Indonesia serta beberapa catatan para Habaib dan Kyai ahli nasab diriwayatkan bahwa:

Sayyid Abu Abullah (Wan Bo atau Raja Champa) memiliki istri:
1. Isteri Pertama adalah: Syarifah Zainab binti Sayyid Yusuf Asy-Syandani (Pattani Thailand) melahirkan 2 anak laki-laki: yaitu:
a. Sayyid Abul Muzhaffar, melahirkan para sultan Pattani, Kelantan lama dan Malaysia.
b. Sayyid Babullah, melahirkan Sultan-sultan Ternate.

2. Isteri kedua adalah Nyai Rara Santang binti Prabu Siliwangi Raja Pajajaran, melahirkan 2 anak, yaitu:
a. Sultan Nurullah (Raja Champa)
b. Syarif Hidayatullah (Raja Cirebon) bergelar Sunan Gunung Jati.

3. Istri ketiga adalah Nyai Condrowati binti Raja Brawijaya V, melahirkan 1 anak yaitu: Raden Patah yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Gelar Akbar dinisbatkan pada gelar ayahnya yaitu Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam ) ibni Jamaluddin Al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra atau Syekh Maulana Al-Akbar)

Cerita yang wajib diluruskan adalah:
1. Menurut Babad Tanah Jawi, Bahwa Raden Patah anak dari Brawijaya V yang menikahi Syarifah dari Champa yang bernama Ratu Dwarawati

Sanggahan saya:
Dalam ilmu Fiqih Islam, hal ini penghinaan terhadap Syarifah, karena tidak mungkin seorang syarifah dinikahkan kepada Raja Hindu. kalao toh masuk Islam. Maka tidak mungkin syarifah menikah dengan muallaf.

2. Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, Ibu Raden Patah adalah Selir Brawijaya dari Cina. Lalu selir tersebut dicerai dan dinikahkan kepada anak brawijaya yang menjadi Adipati Palembang.

Sanggahan Saya:
Jelas sekali kisah ini bertentangan dengan syariat Islam. Dan tidak layak dinisbatkan kepada ibu dari Raden Patah. Haram hukumnya Istri ayah meskipun telah dicerai dinikahkan dengan anak yang lain.

3. Menurut Suma Oriental karya Tome Pires, pendiri Demak bernama Pate Rodin, cucu seorang masyarakat kelas rendah di Gresik.

Sanggahan saya: Para Orientalis ini sengaja ingin menghancurkan Islam.

Posted in Sejarah | Leave a comment

AYAH NABI IBRAHIM, BUKAN AZAR SANG PEMBUAT PATUNG


Oleh: Muhammad Assegaf (Belanda)

Masalah di atas merupakan masalah yang kontroversial. Barangkali untuk
sebagian orang, masalah ini sudah selesai, dengan pengertian bahwa
ayah Nabi Ibrahim adalah kafir, penyembah sekaligus pembuat patung.
Dan kebanyakan dari kaum muslimin meyakini seperti itu. Padahal ada
sebagian mufassirin dan ulama yang berpendapat bahwa ayah nabi Ibrahim
seorang mukmin, paling tidak, ia hidup pada zaman fatrah . Sehingga ia
tidak bisa dikatakan kafir dan juga tidak bisa dikatakan beriman,
karena misi dan dakwah para nabi tidak sampai kepadanya.

Tulisan ini mencoba ingin mendobrak apa yang dianggap pasti
kebenarannya oleh mayoritas muslimin. Pertama ingin ditegaskan bahwa
kekufuran ayah nabi Ibrahim bukan bagian dari ajaran Islam yang
esensial ( al ma’lum minaddini bi al dharurah ), sehingga kekufurannya
masih bisa dikaji ulang. Dan kalau ada pendapat yang bertentangan
dengan pendapat mayoritas dalam masalah ini, maka jangan diartikan
sebagai pertentangan terhadap ajaran agama, karena, malah, bisa jadi
pendapat mayoritas yang keliru. Kedua bahwa untuk menilai seseorang
itu kafir tidak semudah membalik telapak tangan. Penilaian ini
sebenarnya hak Allah swt. dan dalam tataran syar’i membutuhkan
kehati-hatian. Termasuk diantaranya apakah Abu Thalib kafir atau mukmin ?

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah nabi Ibrahim
adalah beberapa ayat yang menyebutkan Azar sebagai ” ab ” Ibrahim.
Misalnya ayat yang berbunyi, ” Ingatlah ( ketika ), Ibrahim berkata
kepada ” ab “nya Azar, ” Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai
tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan
yang nyata “.( al An’am 74 ).

Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang
kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun
Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh
Allah ( al Taubah 114). Menarik kesimpulan dari ayat di atas dan
sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim seorang kafir terlalu tergesa-gesa,
karena kata ” abun ” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah
kandung saja. Kata ini juga juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek.
Misalnya al Qur’an menyebutkan Nabi Ismail sebagai ” ab ” Nabi Ya’kub
as., padahal beliau adalah paman NabiYa’kub as.
“Adakah kalian menyaksikan ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda)
kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, ” Apa yang kalian
sembah sepeninggalku ? “. Mereka menjawab, ” Kami akan menyembah
Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang
Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri “.( al Baqarah 133 )
Dalam ayat ini dengan jelas kata “aabaaika ” bentuk jama’ dari ” ab “
berarti kakek ( Ibrahim dan Ishak ) dan paman ( Ismail ).
Dan juga kata ” abuya ” atau ” buya ” derivasi dari ” ab ” sering
dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau
orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum
Buya Hamka, misalnya.

Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata ” ab “
tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata ” ab “
pada surat al An’am 74 dan al Taubah 114 ?. Dengan melihat ayat-ayat
yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas
bahwa seorang yang bernama ” Azar “, penyembah dan pembuat patung,
bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya
atau orang yang sangat dekat dengannya.

Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang
yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan,
sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah “.( Maryam 44 ).

Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim.
Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada
Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. “
Berkata Ibrahim, ” Salamun ‘alaika, aku akan memintakan ampun kepada
Tuhanku untukmu “.( Maryam 47 ).

Kemudian al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as. menepati
janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa, ” Ya
Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama
orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi
orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang
yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii
), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu
hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta
dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah
dengan hati yang selamat “.(al Syua’ra 83-89 ).
Allamah Thaba’thabai menjelaskan bahwa kata ” kaana ” dalam ayat ke 86
menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah
kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al
Mizan 7/163).

Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar
menepati janjinya saja kepada Azar, Allah menyatakan bahwa tidak layak
bagi seorang nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau
berlepas tangan ( tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah
musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 ) Kemudian pada perjalanan
kehidupan Nabi Ibrahim yang terakhir, beliau datang ke tempat suci
Mekkah dan mempunyai keturunan, kemudian membangun kembali ka’bah,
beliau berdoa, ” Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan
kaum mukminin di hari tegaknya hisab “.( Ibrahim 41 ).

Kata ” walid ” hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan. Dan
yang dimaksud dengan ” walid ” disini tidak mungkin Azar, karena Nabi
Ibrahim telah ber-tabarri dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah
musuh Allah ( al taubah 114 ). Dengan demikian, maka yang dimaksud
dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan
keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid
disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan
bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.

Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, ” Dan perpindahanmu (
taqallub) di antara orang-orang yang sujud “.( al Syua’ra 219 ).
Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimakasud dengan ayat ini
adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli
sujud ke sulbi ahli sujud. Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari
Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada
Allah. (lihat tafsir al Shofi tulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan
Majma’ al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).

Nabi Ibrahim a. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad
saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as adalah seorang
yang ahli sujud kepada Allah swt. .

Posted in Sejarah | Leave a comment

Menyingkap Kerajaan Islam


(Wawancara Republika dengan Herman Sinung Janutama)
Republika, Senin 5 Juli 2010

Selama ini, buku-buku sejarah mengungkap bahwa Islam mulai masuk ke Indonesia khususnya di Jawa sejak kerajaan Demak. Namun dari berbagai data seperti Babad Majapahit, cerita para sesepuh serta berbagai artefak di situs, candi, makam, dan masjid yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY ternyata menunjukkan bahwa Islam masuk di Jawa jauh sebelum itu dan sejak zaman Majapahit kerajaan ini sudah Islam. Dari data itulah, Herman Sinung Janutama menulis buku yang berjudul “Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi”. Buku tersebut sengaja diluncurkan dalam rangka menyambut Muktamar I Abad Muhammadiyah atas permintaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Untuk mengetahui latar belakang dan fakta-fata sejarah serta target dari diterbitkan buku tersebut, wartawan Republika, Neni Ridarineni mewawancarai penulis buku tersebut.


Bisa diceritakan latar belakang penulisan buku tersebut?

Semuanya serba kebetulan saja. Saya orangnya senang berziarah ke situs-situs. Dan ternyata banyak artefak dan bahan-bahan lain yang saya temukan, dari sinilah kemudian saya tulis dalam buku dan tidak menyangka bisa menjadi buku seperti ini. Memang untuk menggali informasi, saya dapatkan dari pernyataan pinisepuh pada tahun 2008. Dia berkata, “siapa bilang Majapahit itu Hindu?”
Kemudian setelah itu Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta bersedia menerbitkan buku ini dan dilaunching bersamaan dengan pembukaan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah.

Bisa dicontohkan bahan yang diperoleh dari ketldaksengajaan itu?

Di kompleks Trowulan Mojokerto terdapat situs yang dinamakan oleh masyarakat setempat sebagai Resi Maudoro atau Tribuwana Tungga Dewi. Situs tersebut berupa sebuah yoni yang berhiaskan ornamen-ornamen yang kalau diperhatikan merupakan tulisan Allah. Bagi saya kalau orang muslim mudah membacanya.
Kemudian di Sidoarjo ada artefak dengan lambang Surya Majapahit dengan menggunakan kata dan tulisan Arab yang terbacanya: Allah, Muhammad, Adam, Tauhid, Dzat, Asma, Sifat dan Ma’rifat. Dari lambang kerajaan ini dapat diperkirakan secara mudah bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan kesultanan Islam di Jawa atau Nusantara. Lambang Majapahit tersebut juga dapat dilihat pada sampul buku karya sejarawan berkebangsaan Perancis Denys Lombard yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya (Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris). Hal ini yang membuat kami berpikir sebetulnya bagaimana Islam masuk ke Indonesia.

Selain itu adakah bukti lalnnya?

Ada, seperti cerita rakyat di sekitar situs, selalu tentang Islam, tetapi kalau yang berbicara bahwa kerajaan Majapahit itu Hindu pasti orang-orang akademisi. Sehingga pertanyaan kami, mengapa animo masyarakat yang merespon situs sebagaimana muslim saja dan menjadi obyek ziarah umat Islam seperti makam Pitu Troloyo?

Lalu di Candi Panataran ada gambar orang berjenggot dan memberi wejangan. Di umpak Candi Panataran reliefnya sama dengan hiasan dinding di Masjid Demak. Ini yang membuat kami berpandangan tentu tidak mungkin bila ini tidak berarti apa-apa. Lantas di Masjid Lowano Bagelen Purworejo dan Karanganyar Solo, dari sisi tahun, merupakan peninggalan zaman Majapahit.

Di Jepara terdapat sebuah kompleks makam Islam peninggalan Majapahit yang disebut masyarakat Makam Bata Putih. Pada nisan makam-makam tersebut terdapat lambang Surya Majapahit dengan inskripsi kalimah Thayyibah ‘Laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’.

Kemudian seperti kita ketahui berdirinya Demak itu karena restu Raja Majapahit Brawijaya V. Ini terbukti dengan dikirimnya saka Majapahit ke Demak menjadi serambi Masjid Demak. Saka ini diantar Kanjeng Sultan Brawijaya V sendiri dan dikawal oleh dua putranya yaitu Pangeran Bondan Kejawan dan Pangeran Bondan Surati. Dengan demikian Demak Bintara sungguh-sungguh merupakan Bandar Majapahit.


Hal seperti itu apakah belum pernah diungkap di buku-buku yang ditulis orang lain?

Kalau di buku-buku sejarah lain memang hal itu tidak banyak diungkap. Tetapi kalau di kalangan tradisi para sesepuh, cerita-cerita seperti itu biasa mereka bicarakan.

Dengan begitu, apakah buku ini baru satu-satunya yang mengulas secara detail tentang kerajaan Islam di zaman Majapahit?

Ya betul.
Saya hanya mengungkap apa yang selama ini dibicarakan oleh para sesepuh dan minimal dipertimbangkan bahwa para sesepuh memberi warisan narasi sejarah seperti itu. Meskipun untuk pembuktian ilmiah perlu waktu panjang.

Apa metodologi yang digunakan dalam pengumpulan data dan penulisan buku?

Dalam metodologi kami menggunakan strukturalisme sedangkan dalam hal membaca kami menggunakan semiotika Morgin Ferdinand de Sausure. Dan kami memandang budaya itu saling pengaruh dan dipengaruhi. Harus ada semangat pada zaman itu yang ditangkap. Karena itu dalam penelitian Majapahit kami buka dan cari relasi ke seluruh dunia seperti Putri Champa, Timur Tengah, Hadramaut, jalur sutra laut, jalur sutra darat, dan sebagainya.


Apakah ada rencana menulis lagi yang berkaitan dengan buku Ini?

Buku yang saya tulis ini baru jilid pertama yang isinya sekelumit tentang pendirian masa awal Majapahit dan isu-isu Majapahit secara umum. Nanti akan dilanjutkan dengan penulisan jilid dua dan tiga. Karena kami ingin detail. Jilid II dan III isinya tentang Zaman Rajasanagara, Sri Sultan Hayam Wuruk, Desa Warnana, Cheng Ho, Masa Akhir Majapahit transisi ke Demak.

Anda tidak takut berpolemik dengan masyarakat terutama kalangan akademisi?

Ya mau tidak mau harus berpolemik. Tapi bagi saya jauh lebih penting kalau berpolemik dalam hal data. Misalnya ada data ini. Karena saya bicara dengan data, karena itu para pengkritik juga berbicara dengan data juga sehingga memperkaya, bukan asumsi dan prestasi.

Dari mana nara sumber?

Dari makam, candi dan silsilah, masjid dan kami langsung ekspedisi ke situs-situs peninggalan Majapahit. Dalam silsilah Kraton pasti sampai terhubung ke Rasulullah SAW. Karena dalam tradisi Alawiyin para bendoro (priyayi agung) memang klannya ada Assegaf, Al-Aidrus dan ini mudah sekali menghubungkan dengan Rasulullah.

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam buku ini siapa saja?

Kami tidak membuat kajian tokoh, tetapi ada juga beberapa yang kami sebut seperti Eyang Sayyid Jumadil Kubro, Eyang Maulana Malik Ibrahim, dll. Kami ingin membuat suatu buku yang alurnya mudah dinikmati oleh masyarakat, ada ceritanya. Di buku ini kami menyebut Eyang Sayyid Jumadil Kubro, Eyang Maulana Malik Ibrahim. Saya berani menggunakan kata Kesultanan berdasarkan batu batu nisan Eyang Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Di nisan tersebut ada inskripsi sekitar tujuh baris yang menyebutkan bahwa Eyang Maulana Malik adalah kebanggaan para Sultan dan Mentri.

Yang dimaksud kebanggaan Sultan dan Mentri ini siapa? Ini berarti Sultan dan Mentri Majapahit. Berarti saya bisa menyebutkan Majapahit itu kesultanan karena di dalam nisan disebut ‘salatin’ (para sultan). Eyang Maulana Malik Ibrahim ini wafat tahun 1419 sehingga berarti nisan ini memberi tahu pada kita bahwa beliau hidup sekitar 1350-an atau 1360-an dan ini berarti karir keulamaannya terjadi pada zaman Hayam Wuruk.

Sejak kapan dilakukan pengumpulan data?

Tahun 2007 sehingga sudah tiga tahun ini. Sebetulnya dulu kami tidak menyangka bisa diwujudkan dalam bentuk buku. Karena dulu kami suka dengan situs-situs dan berziarah. Pergi ke situs-situs ini sebetulnya karena hobi saja, dan hampir setiap hari ketemu data dan melakukan sharing data dengan teman-teman.

Adakah kesulitan dalam menggali data?

Kalau menurut saya tidak ada, karena ini selama ini kami mengunjungi situs-situs itu hobi saja. Dibukukan ini karena permintaan teman-teman.


Selama berapa lama mempersiapkan penulisan buku ini hingga terbit?

Kalau prosesnya yaitu dari diskusi-diskusi di PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah, red) hingga terbit selama satu setengah tahun, sedangkan databasenya sekitar tiga tahunan. Awalnya kami mengumpulkan data itu hanya untuk kepentingan komunitas saja. Tetapi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta pada Desember tahun 2008 meminta kami untuk presentasi. Setelah itu mereka merespon supaya ini dijadikan buku yang disampaikan dalam Muktamar, minimal untuk data dan mungkin Muhammadiyah bisa mempertimbangkan sebagai tambahan pelajaran sejarah di lingkungan Muhammadiyah.

Apa isi yang paling menarlk dalam buku ini?

Sebetulnya yang paling menarik adalah bagaimana kita berbeda dengan pandangan para sejarawan mengenai Islam masuk ke Indonesia pada umumnya. Kami berpandangan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak zaman Nabi Muhammad. Bahkan sebelum beliau wafat, Islam sudah ada di Nusantara. Beliau mengirimkan utusan ke Nusantara dan ini ada hadits dan datanya yaitu sahabat Ibnu Mas’ud yaitu pertama kali ke daerah Tatjek yang sekarang namanya Aceh.

Karena orang Aceh bilang bahwa leluhurnya ikut Perang Tabo, Perang Uhud. Hal ini berarti komunikasi orang Aceh dengan Madinah waktu itu luar biasa. Nah data-data begini (informasi tersebut) dari sesama teman yang suka mengkaji sejarah sambil lalu dan bukan para profesional.


Apa yang membedakan dengan buku tentang Majapahit lainnya?

Cara membaca data dan sejarah saja, saya menggunakan logika muslim. Sumbernya dari buku-buku konvensional saja yang kami baca ulang. Seperti Makam Troloyo, kami datang ke situsnya, kami pegang artefak dan kami tulis.

Dalam sehari berapa situs yang dibaca?

Satu situs mungkin bisa satu hari. Padahal banyak sekali situs sehingga bisa berhari-hari. Batu nisannya saja ada sekitar 30 buah. Yang kami datangi dari candi, makam hingga masjid bisa mencapai hampir 100-an buah.

Apa target dari penullsan buku?

Ingin membuat buku tentang Majapahit yang komprehensif dan ditulis dalam versi muslim, digunakan logika-logika muslim, bukan berarti dalam pandangan emosional. Misalnya Gadjahmada itu harusnya disambung. Menurut hukum sasandi dalam bahasa Sansekerta, kalau tulisan seperti Gadjahmada akan dipisah, maka nulisnya bukan Gadjah dan Mada melainkan Gadjah dan Ahmada. Jadi dalam versi muslim ini menunjukkan bahwa Gadjahmada itu nama orang muslim dan “gadjah” itu dalam tradisi Alawiyin berarti ulama dari Hadramaut. Seperti di dalam makam bupati Bantul zaman Mataram ada makam Gadjah Putih yang merupakan ulamanya Adipati Bantul pada masa itu yang merupakan orang dari Hadramaut.

Apa membedakan buku ini dengan buku tentang Majapahlt lainnya?

Terutama pada masa transisi ke Demak. Karena banyak orang mengira Demak itu musuh Majapahit. Padahal Raja Demak Raden Patah itu putra pangeran Brawijaya V yang berasal dari Tumapel. Sementara Majapahit ada dua ibukotanya yaitu Majapahit Daha dan Tumapel, Sehingga harus dipertanyakan isu bahwa Demak menyerbu Majapahit yang mana? Raden Patah menyerbu Majapahit yang ibu kota Daha yang rajanya Girindra Wardhana (Paman Raden Patah).

Tampaknya sejarah konvensional tidak detil sehingga ada yang menyebutkan Raden Patah anak durhaka dan ini menurut saya keterlaluan. Karena tidak diselami sejarahnya dahulu bagaimana Majapahit (itu). Padahal semenjak Raden Wijaya meninggal sudah dua ibukotanya yaitu Daha di Kediri dan Tumapel di Malang tetapi itu dihubungkan oleh Sungai Berantas. Jadi sebetulnya dua-duanya tidak musuhan, cuma untuk kepentingan kemudahan (saja). Tetapi masyarakat konvensional tahunya Majapahit itu satu dan diserbu oleh Demak dan ini yang perlu dipertanyakan.

Posted in Sejarah | Leave a comment

PEMBELAANKU TERHADAP TAAJUL AWLIYA ‘ABDULQODIR AL-JAYLANIY

Oleh: Anggha Majhoel (Mesir)

Sepercik Faedah Dari Pembelaanku Terhadap
Wali Alloh Asy-Syaikh ‘Abdulqodir Al-jaylaaniy

Makalah ini saya tertibkan menjadi beberapa bagian ,yaitu yang
Pertama :Mukaddimah.
Kedua : Nasab beliau
Ketiga : Kunyah Beliau
Keempat: Laqob dan pujian Ulama terhadap beliau.
Kelima :Karya tulis beliau
Keenam: Aqidah beliau
Ketujuh : Persaksian para ulama terhadap karomah-karomah beliau.

Pertama : Mukaddimah.

Sesungguhnya perkara menulis buku yang bersifat ‘ilmiyyah bukanlah perkara yang bisa dibilang mudah –jika tidak mau dikatakan sangat mudah–, tidak mudah bagi seseorang untuk menulis dan mencetak sebuah karya tulis ‘ilmiyyah menjadi sebuah buku, apalagi jika kita menulis sebuah buku ‘ilmiyyah yang terkumpul di dalamnya firman-firman Alloh dan Sunnah-Sunnah Rosulnya serta Atsar para sahabatnya, terlebih lagi jika kita belum menguasai adawat dan disiplin ilmu dasar mengenai karya tulis ilmiyyah, maka kehancuran dan kerusakanlah yang terjadi pada kita, namun yang berada di hadapan pembaca ini hanyalah sepercik atau sebagian kecil dari kumpulan catatanku yang saya hidangkan berupa makalah mengenai “PEMBELAANKU TERHADAP SYAIKH ‘ABDULQODIR AL-JAYLAANIY”, makalah ini merupakan muhawalah (upaya) dan manhaj (metode) saya dalam latihan menulis sebuah makalah ‘ilmiyyah, meski sebenarnya hati kecil saya enggan untuk menyebarkan dan mengeluarkan makalah ini ke hadapan pembaca, mengingat adanya kekurangan disana-sini, dan mengingat nasihat Al-Hafizh Alkabir Jalaluddin As-Suyuthiy dalam manzhumah Alfiyah fiy ‘ilmil hadits , di fasal “Aadabu thoolibil hadits”, As-Suyuthiy berkata :

” 1. أبوابا او تراجما أو طرقا **** و احذر من الإخراج قبل الانتقا “
” 2. و هل يثاب قارئ الآثار **** كقارئ القرآن خلف جاري “

Dua bait di diatas adalah “bahrur rojaz” yang merupakan bagian dari ‘ilmu Al-‘Arudh wal qowaafiy”, cara membacanya harus dengan suara taronnum (agar mudah dihafal) dan wajib menggunakan wazan “mustaf’ilun” dan “mustaf’ilu”, dan memiliki enam ketukan. dua bait di atas wazannya seperti ini :

#mustaf’ilun mustaf’ilun mustaf’ilu****mustaf’ilun mustaf’ilun mustaf’ilu#

dan dua bait di atas; harokat dan cara membacanya seperti ini :

“1. Abwaaba niw taroojiman aw thuruqo *** wah dzar minal ikhrooji qoblal lintiqo”.
“2. Wa hal yutsaabu qoori-ul atsaariy *** ka qoori-il qur-aani khulfun jaariy”.

Yang ingin saya bahas pada dua bait sya’ir ini adalah bait yang pertama yaitu : “wah dzar minal ikhrooji qobla lintiqo”, yang artinya : “Awas…hati-hatilah kamu dari mengeluarkan karya tulismu (berupa buku/kitab) sebelum kamu intiqo (seleksi)..!!!”.

Syaikh Al-‘Allaamah ‘Aliy bin Adam Al-Ithyubiy menjelaskan maksud dari bait sya’ir di atas dalam kitab “syarah alfiyyah as-suyuthiy fiy ‘ilmil hadits” yang berjudul ” Is’aafu dzawil wathor bi syarhi nazhmid duror fiy ‘ilmil atsar” jilid ke-2, hal:158, kata beliau begini :
” (و احذر) أيها المصنف (من الإخراج) أي إخراج مصنفك إلى الناس (قبل الانتقا) أي تهذيبه و تحريره و تكرير نظرك فيه ، و لا يضرك فيه كثرة اللحاق، فقد قال الشافعي : إذا رأيت الكتاب فيه إلحاق و إصلاح، فاشهد له بالصحة . و قال بعضهم : لا يضيئ الكتاب حتى يظلم .
Artinya :
Dan awas…hati-hatilah kamu wahai penulis, hati-hatilah kamu dari mengeluarkan (atau mencetak) buku/kitabmu kepada manusia sebelum kamu melakukan intiqo (seleksi) yaitu : dengan membenarkan isinya, mengeditnya, dan bulak-balik menelaahnya kembali, dan banyaknya penambahan itu takkan memudhorotkan bukumu, karena sungguh Al-Imam Asy-Syafi’iy telah berkata : Jika kamu melihat sebuah buku/kitab yang di dalamnya banyak terdapat ilhaaq (tambahan) dan islaah (perbaikan), maka saksikanlah akan sahnya buku tersebut. Hingga sebagian dari mereka ada yang berkata : Sebuah kitab itu takkan bersinar hingga berubah menjadi gelap (karena penuh dengan coretan berupa intiqo yang telah disebut di bagian atas).

Kemudian renungkanlah penuturan Al-Qoodhiy Abdurrohiym Al-Baysaaniy –rohimahulloh– :
إني رأيت أنه لا يكتب إنسان كتابا فى يومه إلا قال فى غده : ” لو غير هذا لكان أحسن ، و لو زيد هذا لكان يستحسن ، و لو قدم هذا لكان أفضل ، و لو ترك هذا لكان أجمل” ، و هذا من أعظم العبر و هو دليل استيلاء النقص على جملة البشر “.
Artinya :
Sungguh aku berpendapat bahwasanya tidaklah seseorang menulis sebuah kitab di hari itu kecuali pasti dia akan berkata di esok harinya : “aduhai…kalau saja hal ini dirubah, tentu keberadaannya akan menjadi lebih baik..!!, kalau saja hal ini ditambah, tentu keberadaannya akan dianggap baik..!!, kalau saja hal ini didahulukan, tentu keberadaannya akan menjadi lebih utama..!!, kalau saja hal ini ditinggalkan, tentu keberadaannya akan menjadi lebih cantik..!!”. Ini merupakan seagung-agungnya pelajaran dan bukti akan adanya sifat kurang dan lemah pada mayoritas manusia. (Lihat kitab “tadqiyqun nazhor fiy qowli al-bukhooriyyi fiyhi nazhor” karya Abu ‘Abdirrohman Ayman bin Abdul fattaah Alu maydaan, halaman ke 7, fasal : iymaadh, pustaka : Daarut ta-shiyl, Al-Manshuwroh-Mesir).

Berangkat dari sini, saya hanya ingin berupaya dan belajar menulis ‘ilmiyyah dalam bentuk makalah seperti ini, dengan harapan makalah saya ini bisa menambah semangat kita dalam menimba ‘ilmu dan beribadah kepada Alloh ta’aala serta bisa menghapus dan menebus dosa-dosa saya di akhirat kelak, wallohu min waroo-il qosd, selamat membaca..!! (:-)

Kedua : Nama Beliau .
‘Abdulqoodir bin Abiy Shoolih Muwsa Jangkiy Dawsat bin Abiy ‘Abdillah.

Ketiga : Nasab Beliau.
Sepanjang yang saya ketahui –wallohu a’lam–, nasab Beliau dari pihak ayah bersambung sampai kepada Al-hasan –rodhiyallohu ‘anhu–, dan dari pihak ibu bersambung sampai kepada Alhusain –rodhiyallohu ‘anhu–. Namun yang menjadi catatan disini adalah bahwa sebagian manusia mengingkari wujud penisbatan nasab Beliau kepada ‘Ali bin Abiy Thoolib (Suami Fatimah Az-Zahro); sebagaimana yang tercantum di dalam kitab “Adz-Dzayl ‘Ala Thobaqootil Hanaabilah” (1/290) karya Alhafizh Ibnu Rojab, di mana Ibnu Rojab berkata dalam kitab tersebut seperti in :

” و بعض الناس ينكر نسبته إلى علي بن أبي طالب “

Artinya :
“Dan sebagian manusia mengingkari (sahnya) penisbatan Beliau (‘Abdulqodir Al-Jaylaaniy) kepada ‘Ali bin Abiy Thoolib (istri Fatimah Az-Zahro –rodhiyallohu ‘anha—”.

Akan tetapi pada kesempatan kali ini saya memandang tidak begitu penting berpanjang lebar membicarakan qodhiyyah nasab Beliau secara isnad, dan juga karena Syaikh ‘Abdulqodir sendiri tidak begitu mementingkan perkara nasab, tidak pula memiliki syahwat untuk berbangga-bangga dengan nasab serta muncul menjadi buah bibir, akan tetapi yang tampak jelas dari pribadi Syaikh ‘Abdulqodir adalah keunggulan akhlak, sifat tawaadhu’ dan zuhud serta waro’. Oleh karena itu tampaklah kerendahan hatinya ketika Beliau memperkenalkan dirinya sendiri kepada orang lain; Beliau hanya berkata :
” متفقه من جيلان …! “

Artinya :
“Seorang pelajar fikih dari negeri Jaylaan..!”. (di kitab “Siyar A’laamin Nubalaa”,20/444).

Kemudian tatkala Beliau menjadi seorang Syaikh yang popular (padahal Beliau menjauh dari popularitas) dengan ketinggian akhlak, kesholihan, ibadah, waro, zuhud, sabar, yakin dan kebenaran karomat-karomat Beliau, maka popularitas dan pribadi Beliau yang telah menjadi buah bibir itu sudah tidak lagi membutuhkan penyebutan wujud nasab Beliau, bersamaan dengan lemahnya dalil-dalil orang yang mengingkari sahnya penisbatan nasab Beliau kepada ‘Ali bin Abiy Thoolib dan kuatnya dalil-dalil yang menetapkan sahnya penisbatan nasab Beliau kepada ‘Ali bin Abiy Thoolib –rodhiyallohu ‘anhu—(Lihat “Bahjatul asroor” karya Asy-Syatnuwfiy, hal.88).

Berkata Ibnu Ash-Shoobuwniy (di kitab “Takmilatu ikmaalil ikmaal”, hal.359) :
” و كان الشيخ عبد القادر لا يحب أن يذكر نسبه أو أن يتباهى به، و كان ينهى أولاده عن ذلك أيضا تواضعا منه رحمه الله تعالى، و تحقيقا لحديث رسول الله –صلى الله عليه و سلم– : (( من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه )) – رواه مسلم –.

Artinya :
“Dan Beliau tidak suka menyebutkan nasabnya, tidak pula membanggakan diri dengannya, serta melarang anak-anaknya untuk melakukan hal tersebut sebagai bentuk tawadhu –semoga Alloh merahmatinya–, dan sebagai realisasi dari hadits Rosululloh SAW : (( Barang siapa yang amalannya kurang lagi lamban, maka nasabnya tak dapat menutupi kekurangannya )) “.—selesai perkataan Syaikh Ibnu Ashoobuniy–.

Dalam pada itu, renungkanlah penuturan Al-Hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbaliy berikut ini (di kitab “Jaami’ul ‘uluwm wal hikam”, hal 652, tahqiq & ta’liq : Syaikh Thoriq ‘Awadhulloh, penerbit Dar Ibnul Jawziy), Berkata Al-hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbaliy :

” قوله : (( و من بطأ به عمله، لم يسرع به نسبه )) : معناه : أن العمل هو الذي يبلغ بالعبد درجات الآخرة ، كما قال تعالى : (( و لكل درجات مما عملوا )) – الأنعام :132 — ، فمن أبطأ به عمله أن يبلغ به المنازل العالية عند الله تعالى لم يسرع به نسبه فيبلغه تلك الدرجات ، فإن الله تعالى رتب الجزاء على الأعمال، لا على الأنساب، كما قال تعالى : (( فإذا نفخ فى الصور فلآ أنساب بينهم يومئذ و لا يتساءلون )) – المؤمنون : 101 –، و قد أمر الله تعالى بالمسارعة إلى مغفرته و رحمته بالأعمال، كما قال تعالى : (( و سارعوا إلى مغفرة من ربكم و جنة عرضها السماوات و الأرض أعدت للمتقين، الذين ينفقون فى السراء و الضراء و الكاظمين الغيظ و العافين عن الناس )) – آل عمران : 133- 134 – و قال تعالى : (( إن الذين هم فى خشية ربهم مشفقون ، و الذين هم بآيات ربهم مشفقون ، و الذين هم بآيات ربهم يؤمنون ، و الذين هم بربهم لا يشركون، و الذين يؤتون ما ءاتوا و قلوبهم و جلة أنهم إلى ربهم راجعون، أولئك يسارعون فى الخيرات و هم لها سابقون )) – المؤمنون : 57- 61– .
وخرج الطبراني و زاد فيه : (( إن أهل بيتي هؤلاء يرون أنهم أولى الناس بي ، و ليس كذلك، إن أوليائي منكم المتقون، من كانوا م حيث كانوا )) – أخرجه أحمد و بن حبان و الطبراني–.
يشير إلى أن ولايته لا تنال بالنسب، و إن قرب، و إنما تنال بالإيمان و العمل الصالح، فمن كان أكمل إيمانا و عملا، فهو أعظم ولاية له، سواء كان له من نسب
قريب أو لم يكن، و فى هذا المعنى يقول بعضهم :

لعمرك ما الإنسان إلا بدينه ****** فلا تترك التقوى اتكالا على النسب
لقد شرف الإسلام سلمان فارس ***** و قد وضع الشرك الشقي أبا لهب

ِArtinya :
” Dan Sabda Nabi SAW : ((Barang siapa yang amalannya kurang lagi lamban, maka nasabnya tak dapat menutupi kekurangannya)), makna dari hadits ini adalah : Bahwa amallah yang dapat mengangkat seorang hamba ke derajat tertinggi di akherat kelak, sebagaimana firman Alloh ta’aala : ((Dan masing-masing orang ada tingkatannya, sesuai dengan apa yang mereka amalkan)) –Qs.Al-An’aam:132–, maka orang yang kurang lagi lamban amalannya dalam mencapai derajat akherat di sisi Alloh ta’aala ; nasabnya itu tak dapat menutup kekurangan amalnya untuk bisa sampai kepada derajat tersebut, karena Alloh ta’aala itu memberi ganjaran sesuai dengan ukuran amal, bukan dengan ukuran nasab, sebagaimana firman Alloh ta’aala : (( Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi nasab (pertalian keluarga) di antara mereka pada hari itu (hari kiamat), dan tidak pula mereka saling bertanya)). –Qs.Almu-minun :101–, dan sungguh Alloh ta’aala telah memerintahkan agar bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan amal sholih, sebagaimana firman Alloh ta’aala : (( Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain)) –Qs.Alu ‘Imron:133-134–. Dan Alloh ta’aala berfirman : (( Sungguh, orang-orang yang karena takut akan adzab tuhannya; mereka sangat berhati-hati, dan mereka yang beriman dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhannya, dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhannya, dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya))—Qs.Almu-minun :57-61–.
Lanjut Al-hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbaliy : Hadits Nabi yang berbunyi : (( Sesungguhnya Ahli baitku; mereka itu memandang bahwasanya meraka adalah manusia yang paling utama dengan sebabku, padahal tidaklah seperti itu keadaannya, sesungguhnya wali-waliku adalah orang-orang yang bertakwa di antara kalian, siapa saja mereka dan dari mana saja mereka)) –HR. Ahmad, Ibnu Hibbaan, dan Ath-Thobrooniy–. Yang menjadi syahid (bukti/penguat) dari hadits tersebut adalah hadits yang tercantum dalam kitab “Ash-Shohiiyhaiyn” dari ‘Amr bin Al-‘Aash, bahwasanya dia telah mendengar Nabi SAW bersabda : (( Sesungguhnya keluarga Abu fulan; mereka itu bukanlah wali-waliku, dan hanyasanya waliku itu Alloh dan orang-orang mu-min yang sholih)) –-HR. Albukhriy dan Muslim–.
Lalu lanjut Al-Hafizh Ibnu Rojab : Hadits tersebut mengisyaratkan bahwasanya kemuliaan itu tak bisa diperoleh dengan nasab, tapi hanya didapat dengan keimanan dan amal sholih, maka barang siapa yang paling sempurna iman dan amalnya, itulah kemulian yang terbesar baginya, sama saja apakah orang itu memiliki nasab ataukah tidak. Dan yang semakna dengan perkara ini adalah syair:

لعمرك ما الإنسان إلا بدينه ****** فلا تترك التقوى اتكالا على النسب
لقد شرف الإسلام سلمان فارس ***** و قد وضع الشرك الشقي أبا لهب

“@Demi umurmu, tiada (artinya hidup) manusia itu kecuali dengan agamanya…….…
Maka janganlah kamu tinggalkan takwa hanya karena bersandar kepada nasaB.
@Sungguh islam telah memuliakan Salman Al-faarisiy …………..
Dan sungguh syirik itu telah merendahkan si celaka Abu LahaB.

—Selesai perkataan Al-hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbaliy, pent.–.

Ke-empat : Kun-yah Beliau.
Sepanjang pemeriksaan saya –wallohu a’lam–, hampir semua kitab-kitab siroh dan biografi menyatakan bahwa kun-yah Beliau adalah “Abu Muhammad”, dan nisbat (negeri) Beliau adalah “Al-Jaylaaniy” atau “Al-Jiiyliy” atau “Al-Kaylaaniy”.

#Berkata ibnu Al-Atsir (di kitab “Alkaamil” 11/923) :
” هو عبد القادر بن أبي صالح أبو محمد الجيلي “

Artinya :
“Beliau adalah ‘Abdulqoodir bin Abiy shoolih; Abu Muhammad Al-Jiiyliy “.

#Berkata Al-Imam Ibnu Katsiiyr (di kitab “Albidaayah wan nihaayah”,12/270) :
” هو الشيخ عبد القادر بن أبي صالح أبو محمد الجيلي “

Artinya :
“Beliau adalah ‘Abdulqoodir bin Abiy Shoolih; Abu Muhammad Al-Jiiyliy “.

#Berkata Az-Zirikliy (di kitab “Al-A’laam”, 4/47) :
” عبد القادر بن موسى بن عبد الله بن جنكي دوست الحسني أبو محمد محي الدين الجيلاني أو الكيلاني أو الجيلي “

Artinya :
“Abdulqoodir bin Muwsa bin ‘Abdillah bin Jangkiy Dawsat Alhasaniy; Abu Muhammad Muhyiddin Aljaylaaniy atau Aljiiyliy atau Al-kaylaaniy”.

Kelima : Laqob (gelar) & Pujian ‘Ulama Kepada Beliau.
Di antara laqob dan pujian yang ‘Ulama berikan kepada Beliau adalah : Asy-Syaikh, Al-Imam, Syaikhul islaam, Imamnya kaum sufi, Al-‘Aarif, Az-Zaahid, Al-Qudwah, ‘Alamul awliyaa dan lain-lain. Pehatikan penuturan para ‘ulama berikut ini :

*Berkata Al-hafizh Ibnu Rojab menukil dari perkataan As-Sam’aaniy (di kitab “Adz-Dzayl ‘ala thobaqootil hanaabilah, 1/291) :
“إمام الحنابلة و شيخهم فى عصره…!! “
Artinya :
“Beliau adalah Imamnya madzhab hambaliyyah dan Syaikh mereka di masanya”.

*Berkata Al-Hafizh Adz-Dzahabiy (di kitab “Siyar a’laamin nubalaa, 20/439) :
” الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة، شيخ الإسلام، علم الأولياء..!! “

Artinya :
“Beliau adalah Asy-Syaikh, Al-Imam, Az-Zaahid, Al-‘Aarif, Al-Qudwah, Syaikhul islaam, (Simbol) Bendera wali-wali Alloh…!!”.

*Berkata pula Al-Hafizh Adz-Dzahabiy (di kitab “Al-‘ibar fiy khobari man ‘abar”, 3/36) :
” شيخ العصر، و قدوة العارفين، و صاحب المقامات و الكرامات ، انتهى إليه التقدم فى الوعظ، و الكلام على الخواطر…!! “

Artinya :
“Beliau adalah Syaikh di masanya, Cermin bagi para ‘Aarif, memiliki maqomat dan karomat, pemberi nasihat sejati, serta mampu membaca lintasan-lintasan fikiran manusia (maksudnya adalah tajamnya firasat Beliau)…!!”.

*Berkata Al-Haafizh Syaikhul islaam Ibnu Taymiyyah (di kitab “Majmu’ Alfataawa, 10/507) :
” و أما أئمة الصوفية المشهورة مثل : الجنيد و أتباعه، و الشيخ عبد القادر و أمثاله، فهؤلاء من أعظم الناس لزوما للأمر و النهي، فالشيخ عبد القادر كلامه كله يعود على اتباع المأمور و ترك المحظور و الصبر على المقدور “

Artinya :
” Dan adapun para Imam sufi yang terkenal seperti : Al-Junayd dan pengikutnya, serta Asy-Syaikh ‘Abdulqoodir dan yang sepertinya, maka mereka semua itu adalah manusia yang paling komitmen terhadap perintah dan larangan Alloh ta’aala, Asy-Syaikh ‘Abdulqoodir seluruh kalamnya kembali kepada (tiga perkara) yaitu : “ittibaa-ul ma-muwr” (mengikuti dan mentaati perintah Alloh ta’aala), “Tarkul mahzhuwr” (meniggalkan perkara yang dilarang Alloh ta’aala), serta “Ash-Shobru ‘alal maqduwr” (sabar terhadap takdir Alloh ta’aala).

Ke-enam : Karya tulis Beliau.
Asy-Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy adalah orang yang sangat sibuk dengan Ibadah, tahajjud, Sholat nafilah, membaca Alqur-an, dzikir, suluk, memberi nasehat, dan mengajar. Beliau mengajar tigabelas disiplin ilmu syar’i yaitu : ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu tentang madzaahib, ilmu tentang khilaaf, ilmu ushul fikih, ilmu nahwu, ilmu qiroat, ilmu tashowwuf dan lain sebagainya. Sebagian besar hidupnya beliau habiskan untuk itu, sehingga perhatian beliau terhadap karya tulis sangatlah sedikit, kalaulah seandainya Alloh ta’aala takdirkan Beliau menyisakan banyak waktunya untuk menulis, tentulah karya tulisnya itu akan memenuhi khanazah maktabah islamiyah bersama ilmunya yang luas dan tersembunyi bak mutiara yang terpendam dalam lautan. Di antara karya tulis beliau baik berupa kitab, atau imla beliau terhadap muridnya, atau masih berupa manuskrip adalah sebagai berikut :

1. Al-Ghunyah li thoolibiiy thoriiqilhaq, telah tercetak.
2. Futuuwhul ghoyb, telah tercetak.
3. Al-Fathurrobbaaniy wal faydhur rohmaaniy, telah tercetak.
4. Hizbu basyaa-iril khoyroot fish sholaati ‘ala shoohibi aayaatil bayyinaat, telah tercetak.
5. Jalaa-ul khootir min kalaamisy syaikh ‘Abdilqoodir, masih berupa masnuskrip.
6. Hizburrojaa walintihaa, masih berupa manuskrip.
7. Ar-Risaalatul ghow-tsiyyah, masih berupa manuskrip.
8. Mi’rooju lathiiyfil ma’aaniy, masih berupa manuskrip.
10. Al-Mawaahiburrohmaaniyyah, masih berupa manuskrip.
11. Washooya asy-syaikh ‘abdilqoodir, masih berupa manuskrip.
12. Bahjatul asroor, telah tercetak.
13. Sirrul asroor fit tashowwuf, telah tercetak.
14. Rosaa-ilus syaikh ‘abdilqoodir, masih berupa manuskrip.
15. Diiywaanus syaikh ‘abdilqoodir, masih berupa manuskrip.
16. Tanbiiyhul ghobiy ila ru-yatin nabiy, masih berupa manuskrip.
17. Ar-Roddu ‘alar roofidhoh, masih berupa manuskrip.
18. Hizbu ‘abdilqoodir alkaylaaniy, masih berupa manuskrip.
19. Al-fuyudhootur robbaaniyyah, telah tercetak.
20.Miskul khitaam fiy tafsiiril qur-aanil kariiym, masih berupa manuskrip.

Selama di mesir ini, saya hanya mendapatkan atau memiliki karya tulis beliau yang nomor : 1, 2, 3, 12, 13, 19 pada bagian yang telah saya sebutkan di atas, sisanya hanya kitab-kitab biografi tentang Beliau yang ditulis oleh para penulis mu’aashir (kontemporer).

Ketujuh : Aqidah Beliau.
Aqidah Syaikh ‘Abdulqoodir adalah ittibaa’ (mengikuti segala perintah syariat) tanpa ibtidaa’ (berbuat bid’ah), perhatikanlah bagaimana penuturan beliau di bawah ini :

*Berkata Asy-Sya’rooniy (di kitab “At-Thobaqootul kubro”, hal:129) :
” كان يقول لأصحابه : اتبعوا و لا تبتدعوا و أطيعوا و لا تخالفوا و اصبروا و لا تجزعوا و انتظروا و لا تيأسوا “

Artinya :
“Dahulu Beliau pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : ikutillah (perintah syariat) dan janganlah kalian berbuat bid’ah, ta-atilah (perintah syariat) dan janganlah kalian menyelisihinya, sabarlah kalian dan janganlah cemas lagi bersedih hati, tunggulah (keputusan Alloh) dan janganlah kalian berputus asa”.

*Berkata Syaikh ‘Abdulqoodir Al-Jaylaniy (di kitab “Alfathur-robbaniy, majlis ke-4) :
” يا غلام…! ، صحبتك للأشرار توقعك فى سوء الظن بالأخيار، امش تحت كل كتاب الله عز و جل و سنة رسوله صلى الله عليه و سلم و قد أفلحت “

Artinya :
” Wahai pemuda…!, persahabatanmu dengan orang-orang yang buruk akan menyebabkan dirimu bersu-uzzhon (berburuk sangka) kepada orang-orang yang baik, berjalanlah di bawah naunan kitab Alloh ‘azza wa jalla dan sunnah Rosululloh SAW, sungguh kamu akan beruntung”.

*Berkata Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy (di kitab “Al-fathur robbaaniy, hal 59) :
“إذا وقع عندك حب رجل و بغض آخر فلا تحب هذا و تبغض هذا بنفسك و بطبعك، بل حكمهما كليهما على الكتاب و السنة، فإن وافقا الذي أحببته فدم على محبته، و إن خالفا فارجع عن محبته، و إن وافقا الذي أبغضته فارجع عن بغضه، و إن خالف فدم على بغضه و إن لم ينفعك ذالك و لم يبن لك فارجع إلى قلوب الصدقين و سلهم عنهما؛ فالمؤمن له نور ينظر به “.
Artinya :
“Jika kamu jatuh cinta terhadap seorang lelaki dan membenci lelaki yang lain, maka janganlah kamu mencintai dan membenci keduanya dengan jiwa dan tabiatmu, akan tetapi hukumlah keduaya dengan Alqur-an dan As-Sunnah, jika orang yang kamu cintai itu sesuai dengan Alqur-an dan As-Sunnah maka teruskanlah cintamu padanya, namun jika orang yang kamu cintai itu menyelisihi Alqur-an dan As-Sunnah maka berhentilah kamu dari mencintainya, dan apabila orang yang kamu benci itu sejalan dengan Alqur-an dan As-Sunnah, maka berhentilah kamu dari membencinya, namun jika dia menyelisihi Alqur-an dan As-Sunnah maka teruskanlah kebencianmu kepadanya, akan tetapi jika perbuatan itu semua tidak bermanfaat bagimu dan tidak jelas bagimu duduk permasalannya, maka kembalikanlah kepada orang-orang yang berhati jujur dan tanyakanlah mereka; karena seorang mu-min itu dapat melihat dengan cahaya yang dimilikinya”.

*Berkata Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaniy (di kitab “Al-Fathurrobaaniy, majlis ke-10) :
“عليكم بالاتباع من غير ابتداع ، عليكم بمذهب السلف الصالح. امشوا فى الجادة المستقيمة، لا تشبيه و لا تعطيل، بل اتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم من غير تكلف و تطبع و لا تشدد و لا تمشدق و لا تمعقل، يسعكم ما وسع من كان قبلكم . ويحك ، تحفظ القرآن و لا تعمل به، تحفظ سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و لا تعمل بها، لأي شيئ تفعل ذلك !؟ و تأمر الناس و أنت لا تفعل و تنهاهم و أنت لا تنتهي”.

Artinya :
Wajib atas kalian ber-ittibaa’ (mengikuti perintah syari’at) tanpa berbuat ibtidaa’ (berbuat bid’ah dalam agama), wajib atas kalian berpegang dengan mazhab As-Salaf Ash-Sholih, berjalanlah kalian pada jalan yang lurus, jangan berbuat tasybih, jangan pula berbuat ta’thil, tapi ikutilah Sunnah Rosululloh SAW tanpa mengada-ada, tanpa dibuat-buat, tanpa berlebih-lebihan, tanpa diakal-akali, cukup bagi kalian apa-apa yang telah mencukupi orang-orang sebelum kalian (dari kalangan As-Salaf Ash-Sholih). Celaka kamu…!!, kamu menghafal Alqur-an tapi tidak mengamalkannya, kamu menghafal Sunnah Rosululloh tapi tidak mengamalkannya, lantas untuk apa kamu melakukan hal itu..!?, dan kamu memerintahkan yang baik kepada manusia tapi kamu sendiri tidak mengamalkannya, kamu melarang manusia dari berbuat keburukan namun kamu mengamalkannya”.

*Saya berkata :
Dari perkataan Syaikhuna ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy di atas, ada beberapa faedah yang perlu saya jelaskan secara terperinci, yaitu :
1.Ada tiga hal yang takkan pernah bersatu hingga hari kiamat, yaitu bahwa Syirik takkan pernah bersatu dengan Tauhid, Bid’ah takkan pernah bersatu dengan Sunnah, dan Maksiat takkan bersatu dengan Ta’at.

2. Syaikh ‘Abdulqodir Al-jaylaaniy adalah orang yang sangat komitmen terhadap Sunnah-Sunnah Rosululloh SAW, sebagaimana Beliaupun sangat membenci perbuatan Bid’ah dalam agama Alloh ta’aala.

3. Syaikh ‘Abdulqodir Al-jaylaaniy adalah orang yang bermazhab Syaf’iy dan Hanbali, namun mengapa Beliau malah berkata :Wajib atas kalian berpegang dengan madzhab As-Salafus Sholih !!??”.. apa maksud Beliau ??!!…jawabannya adalah sebagai berikut :

A. Bermadzhab itu bukanlah hal yang terlarang dalam agama islam, namun yang terlarang adalah ta’ashub atau fanatik terhadap madzhab yang dia peluk setelah dia tahu bahwa dalam permasalahan atau bab tertentu; madzhab yang dia peluk itu telah menyelisihi dalil dan menyimpang dari syaria’at, maka dalam hal ini dia tidak boleh ngotot untuk tenggelam dalam kesalahan dengan mengikuti perkataan seorang imam atau seorang fakih atau madzhab yang dia peluk, dan wajib bagi dia untuk mengikuti dalil yang shohih, dan juga yang perlu diperhatikan oleh orang seperti kita adalah hendaknya kita harus lebih bersikap teliti dan kritis, jangan hanya semata-mata terdapat dakwa bahwa dalam permasalahan atau bab tertentu yang benar adalah pendapat Jumhur, lantas kita berpegang kepada pendapat Jumhur dan menutup mata dari pendapat yang berlainan dengan madzhab kita yang seolah-olah tampak lemah, padahal jika direnungkan justru pendapat yang menyelisihi madzhab kita itu dalilnya lebih kuat, dan perlu renungkan lagi bahwa Jumhur itu berbeda dengan Ijma, dan sekali-kali Jumhur itu bukanlah Ijmaa’, sehingga pendapat Jumhur tidaklah mesti benar adanya.

B. Perhatikanlah apa yang telah dikatakan oleh Faqiiyhuz Zamaan Asy-Syaikh Muhammad bin Shoolih Al-‘Utsaymiin Al-Hanbaliy berikut ini (di kitab “Kitaabul ‘ilm” karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Ustaimin , hal:153, cetakan Maktabah islamiyyah mesir) :
” سئل فضيلة الشيخ : هل يجب التقليد لمذهب معين أم لا ؟؟
فأجاب قائلا : نعم ، يجب التقليد لمذهب معين وجوبا لازما، لكن هذا المذهب المعين الذي يجب تقليده مذهب الرسول صلى الله عليه و سلم ، لأن الذي ذهب إليه الرسول صلى الله عليه و سلم واجب الاتباع و هو الذي به سعادة الدنيا و الآخرة، قال تعالى (( قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله و يغفر لكم ذنوبكم و الله غفور رحيم ))
–آل عمران ؛ 31–و قال تعالى (( و أطيعوا الله و الرسول لعلكم ترحمون )) –آل عمران :132–. فهذا هو المذهب الواجب الاتباع بإجماع أهل العلم و أما غير هذا المذهب فإن اتباعه ضائع إذا لم يتبين الدليل من خلافه فإن تبين الدليل بخلافه فاتباعه محرم. حتى قال شيخ الإسلام –رحمه الله — : من قال أن أحدا من الناس يجب طاعته فى كل ما قال ، فإنه يستتاب فإن تاب و إلا قتل، لأن فى ذلك طاعة غير رسول الله—صلى الله عليه و سلم—فإنه يجب الأخذ بقوله، و قد قال –صلى الله عليه و سلم -)) اقتدوا بالذين من بعدي أبي بكر و عمر) – صحيح رواه الترمذي و ابن ماجه و أحمد –. و قال )) إن يطيعوا أبا بكر و عمر يرشدوا )—صحيح رواه مسلم –”.

Artinya :
Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin Al-Hanbaliy pernah ditanya : “Apakah taklid kepada madzhab tertentu itu wajib ataukah tidak ?”.
Maka Syaikh Muhammad menjawab seraya berkata : Ya..! Lazimnya wajib taklid kepada madzhab tertentu, akan tetapi madzhab yang wajib ditaklid itu adalah madzhab Rosululloh SAW. Karena hanya pendapat Rosulullohlah SAW yang wajib diikuti lagi dita-ati –secara mutlak–, yang akibatnya mendapatkan kebahagian di dunia dan Akherat, Alloh ta’aala berfirman :
((Katakanlah: Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku –Muhammad SAW–, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Alloh maha pengampun lagi maha pemurah)) – Qs.Alu ‘Imron;31 — . Dan Alloh ta’aala berfirman : ((Dan ta-atilah Alloh dan Rosul agar kalian dirahmati)) – Qs. Alu ‘Imron;132 –. Maka inilah madzhab yang wajib diikuti dengan ‘Ijma Ahli ilmu, adapun selain madzhab ini, jika dalilnya belum jelas baginya; sedang dia menyelisihi dalil tersebut; maka mengikutinya merupakan kesia-siaan, namun apabila telah jelas dalilnya sedang dia menyelisihi dalil tersebut; maka mengikutinya adalah haram. Sampai-sampai Syaikhul islaam Ibnu Taymiyyah berkata : Barang siapa yang berkata : ” Seseorang dari manusia benar-benar wajib diikuti dalam setiap perkataannya ..!!”, (siapa yang berkata seperti itu) maka wajib orang tersebut diperintah untuk bertaubat jika dia mau bertaubat, namun jika dia tak mau bertaubat; maka wajib dibunuh (oleh pemerintah muslim); karena perbuatan semacam itu adalah perbuatan ta-at kepada selain Rosululloh SAW –selesai perkataan Syaikhul islam Ibnu Taymiyyah, pent.–. Lalu lanjut Syaikh Muhammad : Benarlah apa yang telah dikatakan Syaikhul islam Ibnu Taymiyah itu –semoga Alloh merahmatinya— yaitu bahwa tak ada seorangpun dari manusia yang wajib diambil perkataannya secara mutlak kecuali Nabi SAW, dan sungguh beliau SAW telah bersabda : ((Ikutilah dua orang sahabatku Abu Bakar dan ‘Umar)) – Shohih, Riwayat At-Tirmidziy, Ibnu Maajah dan Ahmad–. Dan Beliau SAW bersabda : ((Jika mereka mengikuti Abu Bakar dan ‘Umar pasti mereka akan terbimbing lagi mendapat petunjuk)) – selesai perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimiiyn Al-hanbaliy–.

C. Berikut ini adalah pernyataan para Imam tentang wajibnya berpegang teguh dan mengikuti Al-hadits atau As-Sunnah dan meninggalkan siapapun yang menyalahi As-Sunnah :

#Berkata Al-Imam Abu hanifah :
“إذا قلت قولا يخالف كتاب الله و خبر الرسول صلى الله عليه و سلم فاتركوا قولي “
Artinya :
“Jika saya mengemukakan suatu pendapat yang menyelisihi kitab Alloh dan Hadits Rosululloh SAW maka tinggalkanlah pendapatku itu”.

#Berkata Al-Imam Malik bin Anas :
” إنما أنا بشر أخطئ و أصيب ، فانظروا فى رأيي، فكل ما وافق الكتاب و السنة فخذوه، و كل ما لم يوافق الكتاب و السنة فاتركوه “.
Artinya :
“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah dan terkadang benar, oleh karena itu telitilah pendapatku, bila sesuai dengan Alqur-an dan As-Sunnah ambillah, dan bila tidak sesuai dengan Alqur-an dan As-Sunnah, tinggalkanlah”.

#Berkata Mujtahid Muthlak “Muhammad bin Idris Asy-Syaafi’i :

Dan Al-Imam Asy-Syafi’i berkata pula bahwa :
” أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد “
Artinya :
“Seluruh kaum muslimin telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits/sunnah dari Rosululloh SAW , maka tidak halal baginya meninggalkannya karena ingin mengikuti pendapat seseorang”.

Lalu Beliau berkata lagi :

” إذا وجدتم فى كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله فاتبعوها و لا تلتفتوا إلى قول أحد “
Artinya :
“Bila kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi hadits Rosululloh SAW, peganglah hadits Rosululloh Saw itu dan tinggalkanlah pendapatku itu”.

Dan Beliau pun berkata :
إذا صح الحديث فهو مذهبي ” “
Artinya :
“Bila Sebuah hadits itu telah shohih, maka itulah madzhabku..!”.

Dalam kesempatan yang lain Beliaupun berkata :
إذا رأيتموني أقول قولا، و قد صح عن النبي صلى الله عليه و سلم خلافه، فاعلموا أن عقلي قد ذهب “
Artinya :
“Jika kalian telah mengetahui bahwa aku mengatakan suatu pendapat yang menyelishi hadits Nabi SAW yang shohih, maka ketahuilah bahwa (ketika itu) aku telah gila”.

#Berkata Al-imam Ahmad bin Hanbal :
” رأي الأوزاعي و رأي مالك و رأي أبي حنيفة ، كله رأي، و هو عندي سواء ، إنما الحجة فى الآثار “
Artinya :
“Pendapat Al-‘Awzaa’iy, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semua itu adalah ro-yu (fikiran) semata, dan bagiku semua ro-yu itu sama saja, sebab yang menjadi hujjah itu hanyalah Al-Aatsar (Hadits-hadits Rosululloh SAW)”

Dalam kesempatan yang lain Imam Ahmad berkata :
“من رد حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم ؛ فهو على شفا هلكة…!! “
Artinya :
“Barang siapa yang menolak hadits Rosululloh SAW, maka dia berada dibawah jurang kehancuran..!!”
( Lihat kitab “Shifatu sholatin Nabiy, minat takbir ilat taslim ka-annaka tarooha”, karya Muhammad Nashiruddin Al-Arnauthiy, Hal :41-48, Cetakan Mkatabah Al-ma’aarif, Riyadh).

D. Dari penjelasan di atas jelaslah bagi kita maksud perkataan Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy, yaitu bahwa bermadzhab itu boleh, namun fanatik terhadap madzhab itulah yang terlarang, karena pendapat yang wajib diikuti secara mutlak hanya As-Salafus Sholih yaitu Rosullulloh dan Ijma para sahabatnya, serta manusia sholih yang hidup setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan Tabi’ut -taabi’in.

Kedelapan : Persaksian para ‘ulama terhadap Karomah Syaikh Abdulqodir Al-jaylaaniy.

*Berkata Syaikh Muwafiquddin bin bin Qudaamah Al-Maqdisiy (di kitab “Adz-dzaiyl ‘ala thobaqotil hanabilah” karya Al-Haafizh Ibnu Rojab, No: 134) :
” لم أسمع عن أحد يحكى عنه من الكرامات أكثر مما يحكى عن الشيخ عبد القادر”
Artinya :
“Aku belum belum pernah mendengar seseorang bercerita tentang karomah yang lebih banyak dari cerita karomahnya Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy”.

*Berkata Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdussalaam (di kitab “Adz-Dzaiyl ‘ala thobaqootil hanaabilah” karya Al-Hafizh Ibnu Rojab, No:443, & “Siyar A’laamin Nubalaa”, 20/443) :
” لم تتواتر كرامات أحد من المشايخ إلا الشيخ عبد القادر، فإن كرامته نقلت إلينا بالتواتر”
Artinya :
“Belum mencapai derajat mutawatir kabar karomah salah seorang dari para masyaayikh (Guru-guru besar islam); kecuali karomahnya Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy, Sungguh karomahnya itu telah dinukil sampai kepada kita dengan mutawatir”.

*Berkata Syaikh ‘Aliy bin Salmaan Al-bagdaadiy :
“و ناهيك بالشيخ عبد القادر الجيلاني فإنه صاحب المكاشفات و الكرامات التي لم تنتقل لأحد من عصره “.

Artinya :
“Cukuplah bagimu Syaikh ‘Abdulqoodir Al-jaylaaniy, karena sesungguhnya beliau memiliki mukasyafah dan karomah yang belum pernah berpindah kepada salah seorangpun di zamannya”.

*Berkata Al-Hafizh Adz-Dzahabiy (di kitab “Siyar a’laamin nubalaa, 20/439) :
” الشيخ الإمام العالم الزاهد العارف القدوة، شيخ الإسلام، علم الأولياء..!! “

Artinya :
“Beliau adalah Asy-Syaikh, Al-Imam, Az-Zaahid, Al-‘Aarif, Al-Qudwah, Syaikhul islaam, (Simbol) Bendera wali-wali Alloh…!!”.

*Berkata pula Al-Hafizh Adz-Dzahabiy (di kitab “Al-‘ibar fiy khobari man ‘abar”, 3/36) :
” شيخ العصر، و قدوة العارفين، و صاحب المقامات و الكرامات ، انتهى إليه التقدم فى الوعظ، و الكلام على الخواطر…!! “

Artinya :
“Beliau adalah Syaikh di masanya, Cermin bagi para ‘Aarif, memiliki maqomat dan karomah, pemberi nasihat sejati, serta mampu membaca lintasan-lintasan fikiran manusia (maksudnya adalah tajamnya firasat Beliau)…!!”.

اللهم صل أفضل صلاة على أسعد مخلوقاتك سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم عدد معلوماتك
ومداد كلماتك كلما ذكرك الذاكرون و غفل عن ذكرك الغافلون

—————————————BERSAMBUNG———————————————

Posted in Sejarah | Leave a comment

Kenalkan , kesatria rupawan itu bernama Ali Al Akbar.


Oleh: Muhammad Assegaf (Belanda)

beliau adalah cucu rosulullah saw bernama lengkap ali al akbar ibn husein ibn ali ibnu abi thalib, dilahirkan pada 11 sya’ban tahun 33 H pada peristiwa 10 muharram di karbala usia beliau 27,5 th. disebut ali al akbar karena dia lebih tua dari imam ali zainal abidin as yg dilahirkan pada 5 sya’ban tahun 38 H atau berusia 23 th saat peristiwa 10 muharram di karbala. ali al akbar adalah juga putra tertua dari imam husein as nama kuniyahnya adalah abul hasan. ibunya bernama laila binti abi murra bin urwah bin mas’ud as tsaqafi.

kakek beliau dari pihak ibu, urwah as tsaqafi adalah salah seorang yg paling terpandang dikalangan bangsa arab pada masanya. ungkapan arab saat itu mengatakan: ” hanya ada 4 orang yg memiliki seluruh kemuliaan arabia , tidak seorangpun mampu melewati mereka, mereka adalah bashir al ‘abdi, malik al majlisi, ‘adi ibn hatim dan urwah ibn mas’ud as tsaqafi.”

bila kita membaca kisah hidupnya, terdapat ayat al qur’an yg membicarakan kehidupannya, ” laula nuzzila hadzal qur’an ‘ala rojulin minal qoryatain ‘adhim”. mengapa al qur’an tidak diturunkan pada 2 orang besar “. yaitu saat kaum quraisy mempertanyakan mengapa al qur’an diturunkan pada Muhammad saw mengapa bukan pada 2 org pembesar makkah dan thoif saja, maksudnya pembesar makkah adalah al walid bin mughirah dan pembesar thoif adalah urwah bin mas’ud as tsaqafi.

begitu tingginya kedudukan urwah bin mas’ ud as tsaqafi dikalangan quraisy hingga mereka mengutusnya untuk bertemu rosulullah saw pada perjanjian hudaibiyyah. dan ketika selesai bertemu rosulullah saw mereka menanyakan, ” apa pendapatmu tentang Muhammad?” urwah menjawab: ” Muhammad adalah seorang yg layak menjadi pemimpin, dia sangat dihormati, tahukah kalian betapa pasukannya sangat mencintainya hingga ketika ia membasuh tangannya pasukannya berebut tetesan air yg jatuh dari tangannya”.
namun saat itu urwah belum masuk islam, dia masuk islam ketika fathul makkah dan nabi saw bersabda:” urwah bin mas’ud adalah seperti mu’min dari keluarga yaasin”.
” (19) Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki [Habib An Najjar] dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, (20) ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (21) Mengapa aku tidak menyembah [Tuhan] yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu [semua] akan dikembalikan? (22) Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika [Allah] Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfa’at sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak [pula] dapat menyelamatkanku? (qs. yaasin ayat 19-22)
ayat ini menceriterakan tentang habib an najjar yg mendukung nabi isa as namun akhirnya oleh kaumnya beliau dilempari batu dan di salib hingga syahid.

demikian pula nasib yg menimpa urwah as tsaqafi, ketika fathul makkah dia menghadap nabi saw sebagai wakil banu tsaqif. kemudian nabi saw menjelaskan padanya tentang islam dan kemudian saat itu juga urwah mengucapkan syahadat.

segera setelah dia masuk islam , dia pergi menemui kaumnya dan mengatakan :” aku telah menemui rosulullah dan aku telah masuk islam”. lalu kaumnya mengatakan :” kami tidak akan masuk islam dan kami akan tetap dengan agama kami! .” kemudian mereka melemparinya dengan batu hingga beliau syahid , dalam riwayat disebutkan, ketika menjelang syahid urwah sempat berkata: ” aku rela mati dalam naungan rosulullah”.
itulah dia urwah bin mas’ud as tsaqafi kakek dari ali al akbar.

masih dari pihak ibu, ibu ali al akbar bernama laila, ibunya bernama maimunah binti abu sufyan maka dari itu ali al akbar adalah jg cucu abu sufyan dari pihak ibu. muawiyah adalah paman dari ibunya dan yazid sebenarnya adalah sepupu ibunya.
suatu ketika muawiyah pernah bertanya pada sahabat2nya, ” menurut kalian siapakah yg berhak menggantikanku ?” sahabat2nya menjawab:” salah seorang dari keluargamu”. muawiyah kemudian berkata: “tidak ! sesungguhnya yg pantas menggantikanku adalah ali al akbar bin al husein”. sebab menurutnya ali al akbar mempunyai 3 sifat yg akan menjadikannya pemimpin besar :

1. sifat pemberani dari bani hasyim . seperti kita ketahui, bani hasyim melahirkan kesatria2 besar : hamzah pahlawan uhud , ja’far at thayyar , ali bin abi thalib. tidak ada 1 peperanganpun yg mampu dimenangkan tanpa jasa si pemilik pedang dzulfiqar ali bin abi thalib. bahkan kafir jahiliyyah bangga jika anggota keluarganya terbunuh oleh pedang ali sebab menurut mereka keluarganya telah bertarung melawan sang ksatria sejati.

2.sifat kedermawanan bani umayyah . seperti kita ketahui tidak ada 1 orangpun yg lebih royal menghambur-hamburkan uang pada pemalsu2 hadist kecuali muawiyah bin abi sufyan. dia gemar membayar org untuk memalsukan hadist.

3.kemasyhuran bani tsaqif . seperti tertulis dalam sejarah bahwa bani tsaqif juga melahirkan orang2 termashur baik termasyhur dalam jasa besarnya bagi Islam maupun termasyhur pengkhiatannya dan kedzalimannya pada muslimin seperti al hajjaj bin yusuf as tsaqafi .

walaupun muawiyah mengakui keagungan ali al akbar namun toh pada akhirnya dia memilih puntranya si jelmaan iblis yazid .

sungguh tidak ada orang yg lebih mengenal ali al akbar kecuali ayahnya yaitu imam husein as. ketika melepas ali alkbar menuju medan laga melawan tentara2 yazid , beliau imam husein as berdo’a :” Allahumasyhad ‘ala haa’ulail qoum fa qod baroza ‘alaihim asybahannaas khalqan wa khuluqan wa mantiqan bi rosuulik muhammad shollallhu ‘alaihi wa aalihi wasallam.” yaa Allah Saksikanlah atas orang2 ini , bahwa pemuda yg baru keluar memerangi mereka adalah laki2 yg menyerupai rosulullah dalam penampilannya, akhlaqnya dan visinya.

suatu ketika seorang nasrani berjalan memasuki masjid nabawi, orang2 yg mengenalinya mendatangi dan menegurnya,” kau tau ini masjid , kau tidak boleh berjalan-jalan di dalam sini”. ” aku ingin masuk islam”, sahutnya. “mengapa ?” tanya orang2 yg menegurnya. “beberapa waktu yg lalu aku bermimpi melihat isa al masih sedang berbincang-bincang dengan rosulullah saw, lalu isa al masih berkata padaku : ikutilah agama nabi setelahku , aku ingin memperbaharui agamaku melalui keluarga rosulullah saw.” segera beberapa orang memanggil imam husein as. beliau datang sambil menggandeng seseorang yg mukanya ditutupi cadar , kemudian si nasrani menceriterakan maksudnya dan mimpinya . Lalu imam husein berkata padanya, ” jika aku tunjukkan seseorang padamu, mampukah kau mengenalinya seperti rosulullah ?” , “tunjukkan padaku”, jawabnya. kemudian imam husein membuka cadar ali al akbar, menyaksikan wajah ali al akbar , si nasrani menangis sambil mengatakan: ” pemuda ini benar2 mirip rosulullah saw yg kulihat dalam mimpiku”.

dari segi penampilan fisik , bentuk wajah , mata , rambut , warna kulit dsb beliau benar2 mirip rosulullah saw. dari segi akhlaq kedermawanannya juga mirip kakeknya rosulullah. suatu ketika ali al akbar berkata pada ibunya, ” wahai ibuku, mari kita biarkan asap masakan ini keluar agar orang2 miskin yg lewat bisa mencium baunya dan mengetahui bahwa disini ada makanan untuk mereka”. itulah akhlaq kakeknya rosulullah saw yg selalu menyantuni fakir miskin.

ketika imam husein bersama rombongannya dalam perjalanan menuju karbala, imam husein sempat tertidur sekejap diatas pelana kudanya, beliau tiba2 bangun dan mengucapkan :” innalillahi wa inna ilaihi roji’un” , ali al akbar bertanya;” mengapa anda berkata demikian ?”, imam husin as menjawab:” dalam mimpi aku melihat seorang pemuda menunggang kuda menghampiriku kemudian dia memberitahuku bahwa kematian sedang menghampiri kita”. kemudian ali al akbar berkata: ” wahai ayahku, bukankah kita dalam kebenaran ? ” “ya” jawab imam husein. ali al akbar kemudian berkata:” lalu apa bedanya kematian menghampiri kita atau kita menghampiri kematian ?”. begitulah visi ali al akbar tentang kematian, beliau memandangnya sebagai jembatan menuju kebenaran dan bergabung bersama kakeknya rosulullah saw.

saat yg paling menyedihkan bagi imam husein as adalah ketika ali al akbar mengumandangkan adzan dan para sahabat beliau telah jatuh berguguran, selesai mengumandangkan adzan ali al akbar mendatangi imam husein minta ijin untuk maju ke medan laga. biasanya tiap sahabatnya mohon ijin , beliau imam husein as selalu mohon agar jangan maju sebab musuh hanya menginginkannya saja. namun ketika ali al akbar yg memohon ijin , beliau tidak bisa berkata apa-apa kecuali merestuinya dan mereka berdua saling menangis. kemudian ali al akbar pergi ke tenda sayyidah zainab, memohon pamit pada bibinya dan mereka yg ada ditenda.

setelah selesai, ali al akbar kemudian melangkah maju ke medan laga, namun imam husein memanggilnya sejenak, beliau berkata: ” kau tau betapa ini sangat sulit buatku, sebagai seorang ayah melihat putranya pergi, kemarilah aku ingin memelukmu untuk yg terakhir kali” , kemudian ali al akbar menghampirinya dan mereka saling berpelukan untuk yg terakhir kali.

setelah itu ali akbar melangkah maju ke medan laga, dihadapan tentara yazid yg berjumlah ribuan dia mengucapkan syairnya yg terkenal :
ana ali ibn husein ibnu ali
aku ali putra husein putra ali
nahnu wa baitillah aula binnabiy
kami dan rumah Allah memiliki kebenaran sang nabi
ath’ anakum birrumh hatta yantsani
akan kuserang kalian dengan tombakku hingga aku habiskan kalian
adhribukum bi saif ahmi an abiy
kan kupukul kalian dengan pedang akan kulindungi ayahku
dhoroba ghulaamin hasyimiyyin ‘alawiy
kan kuserang kalian dengan gabungan hasyim dan ‘ali dalam satu kali serangan
wallah laa yahkumu fiina ibnu da’i’
aku bersumpah demi Allah anak “si pemimpin tidak sah” itu tidak akan mampu mengalahkan kami.

ali al akbar kemudian maju bertempur dengan gagah berani, tidak seorangpun berani mendekatinya dia berhasil menewaskan 120 org tentara yazid. setiap kali dia menoleh melihat ayahnya sambil berteriak :” assalaamu’alaika yaa abaa ‘abdillah” , kemudian dia kembali bertempur. lama kemudian ali al akbar kembali menemui ayahnya, dia berkata:” wahai ayahku rasa haus ini begitu sangat”. namun imam husein tiadak memiliki air, imam husein berserta keluarganya telah berhari-hari kehausan tanpa air, mereka dikepung oleh pasukan yazid dihalangi untuk mengambil air. imam husein berkata pada ali al akbar :” putraku ,pergilah berjuang, pada saatnya nanti kakekmu akan memberimu air dari telaga haudh”.

kemudian ali al akbar pergi melanjutkan bertempur, ketika dia sedang sibuk melawan ribuan pasukan yazid, tiba2 salah satu dari pasukan berteriak : seluruh dosa bangsa arab akan aku pikul bila aku tidak mampu memenggal kepala ali al akbar, lalu dia maju dan dari belakang dipukulkan pedangnya kearah kepala ali al akbar! . ali al akbar jatuh dari kudanya kemudian tentara yazid dengan biadab bersama2 menyerang ali al akbar dengan tombak dan pedang dll. terdengar ali al akbar berteriak:” assalamu’alaika ya abata , adrikni yaa aba abdillah” salam atasmu wahai ayahku, tolonglah aku wahai aba abdillah.

para perawi meriwayatkan ketika imam husein berhasil mendekati tubuh ali al akbar, ali al akbar mengucapkan salam padanya namun hanya dengan satu tangan, ketika imam husein mengangkat salah satu tangan ali al akbar beliau melihat kepala tombak menancap menembus dada ali al akbar. kemudia imam husein menghadapkan mukanya ke arah najaf, sambil berucap:” wahai ayahku amirul mu’minin, engkaulah yg mengangkat pintu benteng khaibar, namun engkau belum pernah mencabut tombak yg menancap di dada cucumu ini, datanglah ke karbala dan saksikanlah apa yg aku saksikan”.

ali al akbar terlihat tersenyum dan menangis, imam husein bertanya: ” wahai anakku mengapa kau tiba2 tersenyum?” , “aku tersenyum karena bahagia telah melihat wajah kakekku rosulullah, nenekku fatimah, kakekku ali, pamanku al hasan” lalu mengapa kau menangis? ” , “aku menangis karena tiap kali airmatamu menetes , aku tak sanggup melihat nenekku fatimah azzahrah menangisi setiap tetesan air matamu wahai ayahku”.

disadur dari lecture sayyid ammar nakshawani

Posted in Sejarah | Leave a comment

PERANG NABI MUHAMMAD SAW PADA BULAN RAMADHAN

Oleh: Elang Bagoes Chandra Kusuma Ningrat

Sejarah telah mencatat bahwa pada bulan suci Ramadhan penuh dengan kisah kesuksesan dan kemenangan besar yang mampu diraih umat Islam. Ini sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukanah bulan malas dan lemah, akan tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, dan bulan kemenangan.

Berikut beberapa rentetan peperangan sekaligus kemenangan yang pernah terjadi pada bulan Ramadhan;

Ramadhan 2H
Perang Badar

Ibnu Hisyam menyatakan perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Perang ini terjadi pada pagi Jumat, 17 Ramadhan 2H di Badar. Kemenangan lebih kurang 300 orang tentera Islam di bawah pimpinan Rasulullah ini mengalahkan lebih kurang 1000 orang tentera musyrikin Mekah.


Ramadhan 5H
Perang Khandaq

Persiapan dilakukan dengan mengali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Strategi ini ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan Salman Al-Farisy. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulkaidah setelah pasukan muslimin berjaya memecah belah pasukan musuh.

Ramadhan 8H
Fathul Makkah (Pembukaan Kota Mekah)

Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan darah. Penaklukan itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.


Ramadhan 9H
Perang Tabuk

Pada tahun 629 M Rasulullah Saw. memutuskan untuk melakukan aksi preventif,yakni ekspedisi ke wilayah tabuk yang berbatasan dengan romawi. Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun sekutunya.

Ramadhan 10H
Ekspedisi Yaman

Rasulullah Saw mengutus pasukan dibawah pimpinan Saidina Ali Ra, ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Mereka sholat berjamaah bersama Imam Ali ra. pada hari itu.


Ramadhan 53H

Kemenangan tentera Islam di pulau Rhodes.

Ramadhan 92H
Pembebasan Spanyol

Paglima tentera Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentera Islam berhadapan dengan tentera spanyol berjumlah 90.000 yang diketuai sendiri oleh Raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq bin Ziyad membakarkan kapal- kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentera Raja Frederick. Beliau berkata, ”Sesungguhnya, syurga Allah terbentang luas di hadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kamu semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam , atau mati syahid.”


Ramadhan 129H

Kemenangan atas Bani Abbas di Khurasan dibawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasany.

Ramadhan 584H
Pembebasan Palestina

Panglima tentera Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentera Salib. Tentera Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh tentera Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat kerana risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab “Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam”. Kemudian tentera Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

Ramadhan 658H
Perang Ain Jalut

Saat tentera tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1.8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum muslimin untuk meghancurkan tentera Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jumat, 6 September 1260M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran.

Posted in Sejarah | Leave a comment

Manaqib Syed Jamaluddin al-Akbar bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan al-Husaini

Oleh :Abd Rashid Al-Kubrawiy Al-Husaini
(Ketua Usrah Jumadil Kubro, Malaysia)

Dengan nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puja dan puji dipersembahkan kepada Allah, tuhan yang mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam buat rasul junjungan, ahli keluarga dan para sahabatnya yang di kasihi.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (At Thur- 21)

Di sini adalah Manaqib bagi Ad Daa’I IlaLLAH, as-Syekhul Kabir, al-Qutub al-Habib as-Syed Jamuluddin al-Akbar al-Husaini atau yang lebih masyhur namanya di Nusantara ini dengan nama Syed Hussin Jumadil Kubra atau Jamaluddin Agung atau Sunan Agung. Manaqib ini telah diambil data dan maklumatnya dari beberapa kitab ahli sirah dan nasab yang masyhur. Sesungguhnya telah berlaku banyak ikhtilaf dikalangan para sejarawan tentang beberapa hal yang berkaitan Syed Jamuluddin Hussin al-Akbar ini. Hal ini adalah kerana, kehadiran beliau itu pada abad yang ke 13 masihi, yang sewaktu itu nasab belum tercatit pada dustur yang teratur. Walau bagaimanapun kami telah mengambil jalan yang aslam serta meninggalkan ikhtilaf yang gharib dari perbahasan sejarawan itu dan mencatitkan apa yang semampu kami sahaja pada manaqib Ulama dan Mujahid yang berjasa ini.

Nasab beliau ialah Syed Jamaluddin Hussin al-Akbar @ Syed Jamaluddin al-Hussin @ Syed Hussin Jumadil Kubra Bin Ahmad Jalaluddin Syah @ Ahmad Syah Jalal Bin Abdullah Amir Azamat Khan @ Abdullah al-Amir @ Abdullah Azamat Khan @ Abdullah Khan Bin Al Muhajir Ilal Hindi Abdul Malik Bin Alwi Aamul Faqih Bin Muhammad Sahibul Mirbath Bin Ali Khali’ Qassam Bin Alwi Bin Muhammad Bin Alwi Bin Ubaidillah Bin Ahmad al-Muhajir Bin Isa as-Syakir Bin Muhammad Bin Ali Uraidhi Bin Jaafar Shodiq Bin Muhammad al-Baqir Bin Ali Zainul Abidin Bin Syaidina Hussin Syahid Karbala Sibtu Fatimah Az Zahra’ Al Batul Bin Syaidul Mursalin Muhammad Khatamun Nabiyyin.

Terhadap tarikh kelahiran beliau ini terdapat banyak perselisihan diantara para pengkaji sejarah dan ahli nasab. Tetapi mengikut Syeikh Waliyuddin Khan ( Tarikh Aghrariah: 1923), beliau dilahirkan pada tahun 1336 di Kota Agra India. Beliau dilahirkan bersama limpahan harta dan kemewahan kerana ayahanda beliau, Syed Ahmad Jalaluddin Syah adalah Gabenor Agra di bawah pemerintahan Kesultanan Mughal yang berpusat di New Delhi pada masa itu. Walaupun kehidupan beliau dilimpahi kemewahan dunia, tetapi hal itu tidaklah melalaikan beliau dari istiqamah pada landasan Aslaf beliau yang terdahulu. Dari umur belasan tahun, beliau banyak mengembara ke pelusuk India khasnya di Syaharanfur, Karachi dan Nizamuddin untuk mendalami ilmu khususnya dalam bidang Hadith dan Tasauf. Beliau juga sering mendapat ru’yah bertemu dengan Syaidul Makhluq dan di anugrahkan ALLAH ilmu laduni[1].

Sewaktu beliau berumur 25 tahun, beliau di tunjukkan untuk menjadi gabenor di Haidrabad. Beliau dengan sedaya- upaya berusha untuk menolak jawatan tersebut dan akhirnya terpaksa beliau terima dengan berat dan kecewa[2]. Sewaktu beliau menjadi Gabenor Haidrabat itulah, beliau telah menerapkan Prinsip Islam dalam pemerintahan beliau dan mencontohi para Khalifah ar-Rasyidun. Hasil dari itulah, dalam masa beberapa tahun sahaja, Haidrabad telah termashur sebagai pusat perdagangan. Sewaktu beliau menjawat jawatan gabenor ini juga, telah beberapa kali beliau di amanahkan untuk menjadi panglima perang dalam menentang pemberontakan dari kerajaan Hindu India[3].

Ketika umur beliau 30 tahun, beliau telah melaksanakan Ibadah Haji di Makkah dan melangsungkan ziarah ke Madinah. Sewaktu beliau berziarah Datuk beliau di Madinah inilah, beliau telah bertemu dengan Baginda secara sedar ( Yakazoh) dan di tunjukkan supaya meninggalkan jawatan yang beliau duduki sekarang dan dianjurkan supaya membawa dakwah ke timur. Hal ini adalah bertepatan dengan satu sabda Baginda RasulaLLAH SAW dalam satu hadith yang masyhur:

Dari Abi Masu’d r.a bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda:

Akan datang pada akhir zaman pembawa-pembawa panji hitam dari timur.[4]

Lalu sewaktu pulang dari haji dan ziarah itu, beliau tidak langsung pulang ke Hadrabad, tetapi ke Mughal untuk berziarah kakek beliau Syed Abdullah Amir Azamat Khan. Semasa berada di Mughal inilah, beliau telah bertemu dengan beberapa orang saudara sepupu beliau dan mereka telah diajak untuk bersama-sama melaksanakan dakwah ke timur. Semasa berbincang tentang hala tuju mereka ke timur ini, mereka telah bersepakat untuk menjadikan Kepulauan Nusantara ini sebagai daerah dan lembangan dakwah mereka.Setelah persetujuan di ikat, berangkatlah beliau ke Nusantara ini bersama 6 saudaranya yang lain. Perjalanan mereka ini telah di kenali sebagai “ Wali Tujuh Dengan Perancangan Islam Di Timur”.[5] Semasa dalam pelayaran ke Nusantara ini, mereka telah di uji oleh Sang Yang Maha Mencipta dengan beberapa ujian yang berat dan hal itu tidak mematahkan hasrat mereka.

Setelah tiba di Nusantara ini, mereka telah berpacah untuk mendirikan lembangan dakwah kepada beberapa kepulauan dan Syed Jamaluddin Hussin al-Akbar bersama beberapa saudaranya telah memilih daerah dakwahnya yang pertama di Empayar Langkasuka iaitu yang meliputi Champa (Indo China/ Kemboja sekarang) sehingga ke Kepulauan Mindanao di Filipina, manakala ibukotanya pula adalah Tanah Serendah Sekebun Bunga (Kelantan Tua). Semasa berdakwah di sini, beliau tidak sahaja mendekati para rakyat dan marhain, tetapi turut berdakwah kepada golongan pembesar dan istana. Berhasil dari sinilah, beliau telah diminta oleh Raja Sang Tawal (Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah), Sultan yang memerintah Tanah Serendah Sekebun Bunga pada masa itu untuk tinggal di istana dan menjadi penasihat Sultan.

Semasa beliau berdakwah dan menjadi Penasihat Sultan di Kerajaan Langkasuka, beliau telah dikahwinkan dengan dua orang puteri dari Tanah Serendah Sekebun Bunga iaitu Puteri Linang Cahaya yang merupakan Putri Raja Sang Tawal dan Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) serta seorang Putri Diraja Champa yang bernama Putri Ramawati dan seorang Putri Diraja Johor. Puteri Ramawati (Champa) isteri kedua beliau dan Putri Selindung bulan (Kelantan Tua) isteri ketiga ini adalah saudara sebapa yang dikahwini oleh beliau setelah kematian isterinya yang kedua.

Dari perkahwinan dengan Putri Diraja Kelantan Tua ini beliau mendapat dua orang putra yang bernama Abdul Malik (Gerisik) dan Ali Nurul Alam (Fathoni) serta seorang putri yang bernama Putri Siti Aisyah (Putri Ratna Kesuma)[6] . Dari perkahwinan beliau dengan Putri Ramawati yang merupakan Putri Sultan Zainol Abidin Syah (Che Bong Nga), beliau mendapat seorang putra yang bernama Ibrahim Zainol Akbar[7] (Ibrahim Asmaro @ Ibrahim as-Samarqandi)[8]. Adapun perkahwinan beliau dengan Putri Diraja Johor telah memberikan dua orang putra, iaitu Syarif Muhammad Kebungsuan(Mindanao Filipina) dan Sultan Berkat(Zainol Alam Barakat).[9]

Dari keturunan beliaulah lahirnya para pejuang dan pendakwah di seluruh pelusuk Nusantara kita ini. Contohnya, dari Abdul Malik, lahirnya para Wali Sembilan (Wali Songo) di Indonesia dan dari Ali Nurul Alam, lahirnya para pemerintah, ulama dan pendakwah di Fathoni. Di setiap tempat dan negeri yang mereka kunjungi, mereka langsung membaur dengan rakyat setempat dan menggunakan nama dan gelaran yang dipakai oleh masyarakat secara umum.[10] Mereka mengorbankan gelaran Syed, Syarif dan Habib demi melihat bersatunya jiwa masyarakat dalam dakwah Islami. Dari hal itulah, mereka kini lebih dikenali sebagai Tengku, Tuan, Nik dan Wan. Mereka membaur bersama masyarakat dengan keluhuran akhlak dan kehidupan bersahaja serta ketaatan pada agama seperti yang diwarisi dari leluhur mereka telah memikat hati masyarakat peribumi sehingga Islam tersebar dalam masa yang reletif singkat.[11]

Dari hasil dakwah beliau bersama saudaranya beserta perancangan yang berhikmah, Islam tersebar dengan meluas sehingga Empayar Langkasuka lebih dikenali sebagai Empayar Chermin Jeddah, manakala ibu negerinya (Tanah Serendah Sekebun Bunga/ Kelantan Tua) dikenali sebagai Negeri Serambi Mekah. Ini jelas pada masa itu, yang mana penyebaran ilmu agama amat pesat serta terbinanya Madrasah Diniah ( pondok pasenteren ) bagaikan cendawan selepas hujan serta mereka yang datang belajar agama di sini disamakan tarafnya dengan mereka yang belajar agama di Mekah[12]. Perkembangan Islam di bawah pimpinan beliau tidak terhenti setakat itu sahaja, bahkan beliau berjaya melatih para kader dakwah dan menghantarnya ke seluruh pelusok Asia Nusantara ini.

Dikalangan keturunan beliau yang masyhur sebagai pendakwah diantaranya dari keturunan Ibrahim Zain al-Akbar (Champa) ialah Maulana Ishak, Muhammad Ainul Yakin (Sunan Giri), Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel), Ibrahim (Sunan Bonang), Hasyim (Sunan Derajat), Jaafar Shadiq(Sunan Kudus) . Manakala dari keturunan Ali Nurul Alam (Fatoni) lahirnya Wan Hussin (Tok Masjid Telok Manok/ Tok Syed Quran), Wan Abdullah (Wan Bo/ Tok Raja Wali), Wan Demali, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Wan Demali (Temenggung Laut). Dari keturunan Abdullah (Wan Bo/ Tok Raja Wali) inilah yang telah melahirkan keturunan Abd Malik @ Muluk (Tok Ku Hitam/ Pakcu Keling).

Setelah beberapa lama beliau melaksanakan jihad dan dakwahnya di utara Nusantara maka beliaupun belayar kembali dan memilih kawasan selatan yang meliputi kepulauan Jawa pula. Semasa berada di Pulau Jawa inilah, beliau sempat melihat kejayaan dakwah yang dilaksanakan oleh adakanda dan cucunda beliau. Setelah beberapa lama berada di Pulau Jawa akhirnya beliau merantau dan berdakwah kedaerah Bugis(Makasar/ Ujung Padang) di Sulawesi Selatan. Semasa melaksanakan daawahnya disini, beliau telah dipanggil oleh Qadhi Haqiqi Rabbul Jalil menghadapNya. Maka kembalilah insan yang telah banyak berjasa untuk Agama ALLAH ini dalam keadaan redha lagi diredhai pada tahun 1415 m dan dimakamkan di hadapan masjid beliau di Jalan Masjid Tua, Desa Teroja,Kacamatan Manjeuleng, Kabupaten Wajo, Propensi Sulawesi Selatan.

Semoga ALLAH tetap mencurahkan Rahmat dan berkahNya kepada beliau serta menerima semua hasanah beliau dan memaafkan segala khilaf beliau juga mengangkat beliau kedarjah yang selayaknya bersama datuk beliau Syaidul Mursalin Wakhatamun Nabiyyin.

Aduhai para keturunan yang mulia ini. Apakah kita mengerti betapa menggunungnya tanggungjawab yang terpikul dibahu kita. Betapa leluhur dan sesepuh kita dahulu telah membina empayar dakwah dan penghambaan ke Hadirat Rabbul Jalil. Tersebarnya Islam yang tercinta dibumi Nusantara ini adalah dari keringat, darah dan air mata mereka ini. Apakah cukup kita pada hari ini berbangga dengan nasab al-Akbar atau al-Kubra yang kita miliki atau dengan galaran bangsawan Syed, Habib, Tengku, Tuan, Nik, Wan atau Che yang tersemat di pangkal nama kita dan membiarkan apa yang telah dibina oleh Aslaf kita terdahulu terlekang dek panas, tereput dek hujan, terkakis dek udara. Apakah tugas dan tanggungjawab ini tidak akan disoal ke atas kita di Yaumul Hisab nanti. Apakah memadai untuk kita hari ini berbangga dengan harta,pangkat,gelaran,sijil-sijil akademik dan gelaran akademik yang kita miliki. Apakah untuk itu moyang kita dahulu meninggalkan pangkat,darjat,kekayaan dan tanah tumpah darahnya berlayar ke bumi melayu ini??????????. Tidak sekali-kali!!!!!!!!!!!!!! Tidak sekali-kali wahai anak cucu Syed Jamuluddin Hussin al-Akbar @ Syed Hussin Jumadil Kubra. Beliau meninggalkan segalanya itu adalah demi cinta beliau kepada ALLAH dan RasulALLAH yang merupakan Datuknya dan Datuk kita.

Sedari dan insafilah duhai ansab Jamuluddin Hussin Al Akbar. Tanggungjawab adalah amanah dan amanah akan ditanya di akhirat nanti. Di mana pun kita, pada posisi apa pun kita, dengan seragam apa pun kita, wadah dan jalan kita adalah satu. Melihat Islam tetap mekar mewangi di Asia Nusantara, Bumi Melayu kita ini.

DAFTAR PUSTAKA:

[1] )Ad Dahlawi, Syekh Waliyullah : Fatawa Alhindi

[2] ) Waliyuddin Khan,Syekh: Tarikh Agrariah-1923. Matbaah Beirut

[3] ) Al Malbari, Nazimul Hakim: Sirajul Muluk Lil Hindi-1980, Matbaah Darul Hikam Deoband
[4] ) Turmuzi,Al Muhaddith Mahyuddin: Soheh Turmuzi

.[5] ) Haji Ibrahim (IBHAR), Hj Abd Halim Bashah Bin: Wali Songo Dengan Perkembangan Islam Di Nusantara. Pustaka Al Hijaz Malaysia.

[6] ) Ibid

[7] ) Al Haddad, Syed Alawi Bin Tohir: Al Madkhal Ila Tarikhil Islam Bissyarqil Aqsha.(edisi Indonesia,sejarah perkembangan islam di timur jauh. Alih bahasa Dziya Syahab. Maktab Ad Daimi Jakarta.

[8] ) Al Gadri,Mr Hamid: C Snouck Hurgronje. Politik Belanda Terhadap Islam Dan Keturunan Arab. Sinar Harapan Jakarta 1984.

[9] )Al Khaf, Syed Zain Bin Abdullah: Khidmatul Asyirah

[10] )Al Baqir, Muhammad: Pengantar Thariqah Menuju Kebahagiaan diterjemah dari Risalah Al Muawanah Wal Muzhaharah Wal Muawazarah Lir Raghibin Minal Mu’minin Fi suluki Ala Tariqah Al Akhirah.Syed Abdullah Bin Alawi Al Haddad.

[11] )Ibid

[12] ) Haji Ibrahim (IBHAR), Hj Abd Halim Bashah Bin: Wali Songo Dengan Perkembngan Islam Di Nusantara. Pustaka Al Hijaz Malaysia.

Posted in Sejarah | Leave a comment

Azmatkhan/Al-Azhamat Khan Family, From Mecca to Madina to Iraq to Yemen to India to South East Asia Spreading Peace to The World


Oleh: Nurfadhil Al-Alawi Al-Husaini
Ketua Departemen LITBANG Majelis Dakwah Wali Songo)

44 names, 44 persons, bringing mercy to the world :

1. The Beloved Prophet Sayyidina Muhammad ibn ‘Abdullah (sal.)
2. Sayyida Fatima az-Zahra, who was married to Sayyidina ‘Ali
3. Sayyidina Hussayn ibn ‘Ali ibn Abi Talib
4. Sayyidina ‘Ali Zayn-ul ‘Abideen, buried in Madina
5. Sayyidina Muhammad al-Baqir, buried in Madina al-Munawwara
6. Sayyidina Ja’far as-Sadiq, buried in Madina al-Munawwara
7. Sayyidina ‘Ali al-‘Uraidi, was buried in ‘Uraid, Madina
8. Mawlana Sayyid Muhammad an-Naqib, buried in Basra, Iraq
9. Mawlana Sayyid ‘Isa ar-Rumi, buried in Basra
10. Mawlana Sayyid Ahmad al-Muhajir, buried in Husaysa, Hadramawt
11. Mawlana Sayyid ‘Abdullah ‘Ubaydillah in Hadramawt, Yemen
12. Mawlana Sayyid ‘Alwi (al-‘Awali al-Awwal), Sahal-Yemen
13. Mawlana Sayyid Muhammad Sahibus Saumia, Bayt Jubayr-Yemen
14. Mawlana Sayyid ‘Alawi at-Thani, buried in Bayt Jubayr-Yemen
15. Mawlana Sayyid ‘Ali Khali’Qasam, buried in Tarim-Yemen
16. Mawlana Sayyid Muhammad Sahib Mirbat in Zufar-Yemen
17. Mawlana Sayyid ‘Alawi Ammu al-Faqih in Tarim, Hadramawt-Yemen
18. Mawlana Sayyid Malik al-Azamat Khan di Nasirabad-India
19. Mawlana Sayyid ‘Abdullah, buried in Nasirabad, Hindustan (North-West India)
20. Mawlana Sayyid Ahmad Jalal’uddin Shah al-Khan in Nasirabad-India
21. Mawlana Sayyid Husain Jum’adil Kubro buried in Bugis-Celebes

21.1 Mawlana Sayyid Ibrahim Jum’adil Kubro buried in Wajo, Bugis
21.1.1 Mawlana Sayyid Ishaq ibn Sayyid Ibrahim Jum’adil Kubro
21.1.1.1 Mawlana Sayyid Raden Paku ‘Ainul Yaqin, Prince(Sunan) of Giri-Java
21.1.1.1.1 Mawlana Sayyid Zayn-ul ‘Abideen, Prince in Dalem-Java
21.1.1.1.1.1 Mawlana Sayid ‘Ali Kusumowiro, Prince Sedo Ing Margi-Java
21.1.1.1.1.1.1 Mawlana Sayid Muhammad Fadhullah, Prince (Sunan) Prapen-Java
21.1.1.1.1.1.1.1 Mawlana Sayid Sulayman Panembahan Kawis Gua-Java

21.1.2 Mawlana Sayyid Raden Santri ‘Ali Murtado Prince (Sunan) Gresik II-Java
21.1.2.1 Mawlana Sayyid Raden ‘Usman Haji, Prince (Sunan) Ngudung-Java
21.1.2.1.1 Mawlana Sayyid Raden Ja’far Sadiq Prince (Sunan) Kudus-Java

21.1.3 Mawlana Sayyid Raden Ahmad Rahmatullah Prince (Sunan) Ampel-Java
21.1.3. 1 Mawlana Sayyid Raden Makhdum Ibrahim, Prince (Sunan) Bonang-Java
21.1.3.2 Mawlana Sayyid Raden Qasim Syarifuddin Hasyim, Prince (Sunan) Drajat-Java
21.1.3.3 Mawlana Sayyid Raden Ahmad Hasan, Prince (Sunan) Lamongan-Java
21.1.3.4 Mawlana Sayyid Raden Hamza, Prince (Sunan) Tumapel, Java

21.2. Mawlana Sayyid ‘Ali Nurul Alam, died in Campa (1467)
21.2.1 Mawlana Sayyid Wan Husain, Khalifa (Leader) of Madura
21.2.2 Mawlana Sayyid-Wan Bo ‘Abdullah, Sultan of Kelantan-Malay
21.2.2.1 Mawlana Sayyid-Sharif Hidayatullah Prince Gunung Jati, Sultan of Caruban-Java
21.2.2.1.1 Mawlana (Sayyid) Hasanuddin Sultan I of Banten-Java
21.2.2.1.1.1 Mawlana (Sayyid) Yusuf ibn Hasanuddin Sultan II of Banten-Java
21.2.3 Mawlana Sayyid Wan Demali, King-Admiral of Bentan-Malay

44 names, 44 persons, from mekka to madina, from madina to iraq, from iraq to yemen, from yemen to india, from india to south east asia, spreading peace to the world.

http://www.aulia-e-hind.com/dargah/Intl/Indonesia.htm
http://alahazrat-786.blogspot.com/2010/03/malaysia.html

Posted in Sejarah | Leave a comment

Kaum Arab-Hadrami di Indonesia: Antara Mempertahankan Realitas atau Melihat Realitas Global?

Oleh Hikmawan Saefullah
Staf Pengajar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran dan pengkaji studi-studi Timur Tengah

Sumber Data dari : http://conformeast.multiply.com/journal/item/1/Kaum_Arab-Hadrami_di_Indonesia_ANtara_Mempertahankan_Realitas_atau_Melihat_Realitas_Global

Latar Belakang Sejarah

L. VanRijck Vorsel dalam bukunya, “Riwayat Kepulauan Hindia Timur” menjelaskan bahwa orang-orang Arab datang jauh terlebih dahulu ke wilayah Nusantara dibandingkan orang-orang Belanda. Sebagaimana para pedagang dari Cina, orang-orang Arab telah lebih dahulu bermigrasi dan tinggal di pulau Sumatera. Dan pada akhir abad ke-13 M, diperkirakan aktivitas penyebaran ajaran Islam mulai dilakukan oleh berbagai pendatang dari Maghribi, Asia Selatan, dan Timur Jauh. Mereka antara lain terdiri dari para pedagang dari Persia, Arab, Cina, India dan Hadramaut. Para pendatang dari Hadramaut ini kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah dan atas, yang bertujuan untuk melakukan perdagangan, menyebarkan pengaruh dan ajaran Islam, dan mencari tempat tinggal baru di berbagai belahan Asia, termasuk diantaranya Indonesia.

Perjalanan orang-orang Arab Hadramaut ke Nusantara dilakukan dengan menggunakan kapal kayu, mula-mula mereka harus ke pelabuhan Al-Mukalla atau Al-Syhir, kemudian berlayar ke Malabar India Selatan, dari sana ke Sri Langka, lalu ke Aceh atau Singapura kemudian, sebagian besar menetap di pulau Sumatera, terutama di Palembang, sedangkan yang lainnya menyebar ke berbagai kepulauan Nusantara lainnya, termasuk diantaranya ke Kalimantan, Sulawesi dan ke pulau Jawa.

Kedatangan di Nusantara

Meskipun pada abad ke-9 M, di pulau Sela dekat Sulawesi telah ada kaum Alawiyyin (kaum keturunan Rasulullah SAW melalui cucunya Al-Hasan dan Al-Husayn) yang sudah menetap hingga ia wafatnya akibat kejaran Bani Umayyah dan Bani Abbas, kaum Arab Hadrami masuk ke Nusantara dalam jumlah yang cukup besar dapat dibagi kepada dua frekuensi utama.

Yang pertama, pada abad 13, 14 dan 15 M; pada frekuensi ini, kebanyakan orang-orang Arab Hadrami sudah berasimilasi penuh dengan penduduk pribumi; mereka menikahi wanita-wanita setempat dan mempunyai keturunan yang banyak, baik keturunan yang laki-laki, maupun yang perempuan, juga, menikahi orang-orang pribumi sepenuhnya. Sehingga untuk menelusuri dan menemukan silsilah mereka akan sangat sulit sekali, kecuali bagi mereka yang mempunyai hubungan darah dengan keluarga berbagai kerajaan di Nusantara. Karena, kaum Arab-Hadrami pada masa ini kebanyakan menikahi puteri-puteri raja setempat yang kemudian mendapatkan kekuasaan yang cukup signifikan pada saat itu. Diantara mereka adalah para wali yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai penjuru di Nusantara. Mereka ialah kaum Sayyid (Alawiyyin; keturunan Rasulullah SAW) Hadramaut. Wali Songo dan beberapa walinya mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah SAW, seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Waliyullah, Sunan Puger, Sunan Kalimanyat, Sunan Pakuan, Sunan Tembayat, Sunan Pakala Nagka, Sunan Geseng, dan lain-lain. Sedangkan mengenai Sunan Kalijaga, terdapat dua versi, antara keturunan Jawa asli dan keturunan Arab yang bersambung pada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib. Kenyataannya, banyak orang-orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa mereka masih memiliki hubungan darah dengan mereka semua di atas.

Yang kedua, ialah orang-orang Arab-Hadrami yang bermigrasi besar-besaran pada abad ke-17 hingga abad ke-20. Pada frekuensi kedua ini, kedatangan mereka lebih dipacu oleh keinginan untuk berdagang, menyebarkan agama Islam dan mencari tempat tinggal baru. Bisri Affandi secara lebi detail menjelaskan, bahwa arus migrasi besar-besaran ke Nusantara ini disebabkan tiga faktor: (1) kesulitan faktor ekonomi di Hadramaut (2) mudahnya sarana Transportasi (3) kebijakan ekonomi pemerintah Belanda yang menjadikan kaum minoritas Arab dan Cina sebagai perantara perdagangan internasional.

Pada penghujung dua abad terakhir, yaitu abad ke-19 dan awal abad ke-20, meskipun mempunyai pola integrasi sosial yang sama dengan sebelumnya, yaitu menikahi wanita-wanita pribumi, orang-orang Arab-Hadrami kebanyakan cenderung lebih memilih untuk menjaga ‘keutuhan’ identitas mereka sebagai orang Arab-Hadramaut. Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang bestatus sebagai golongan Sayyid. Di tempat asalnya, Hadramaut, golongan Sayyid atau Alawiyyin ini menempati kedudukan sosial yang tertinggi karena mempunyai darah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Ahmad bin Isa Al-Muhajir, salah satu tradisinya ialah mereka melarang menikahi wanita-wanita mereka dengan yang non-Sayyid, karena kedudukan nasab mereka (kafa’ah nasab) jauh lebih tinggi dibandingkan nasab manapun juga. Dan tradisi ini terus mereka bawa ke Indonesia dan masih terus dipraktekkan.

Peranan Sosial-Politik kaum keturunan Arab-Hadrami di Indonesia

Pada era-pertama, mereka sangat berperan dalam menstabilkan sistem kerajaan Islam pertama di Nusantara, seperti didirikannya keraajan Samudera Pasai (Pertengahan abad ke-13 M) di Aceh Utara dengan raja pertamanya Sultan Malikush Shaleh yang masuk Islam karena pertemuannya Syekh Ismail, seorang Syarif dari Mekah dan kerajaan Islam Demak di Jawa dengan raja pertama yang bernama Raden Fatah (Djin Bun), yang merupakan menantu dari Sunan Ampel dan putera Raja Majapahit. Kemudian, Ki Ageng Pamanahan putera Ki Ageng Ngenis, yang masih keturunan Raden Fatah ini meneruskan perjuangannya dengan mendirikan Kerajaan Islam baru, yaitu kerajaan Mataram, dengan raja pertamanya, Sutawijaya atau lebih dikenal dengan Panembahan Senopati.

Di Jawa Barat, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), putera dari Sayyid di Mesir, Abdullah dan cucu dari raja Sunda, Prabu Siliwangi, membantu Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan Cirebon. Syekh Datuk Kahfi, seorang Ulama Besar dan penyebar ajaran Islam di Amparan Jati, juga merupakan cicit dari Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan) dari India, cucunya, Pangeran Santri, menjadi penguasa di Kerajaan Sumedang Larang bekerja sama dengan istrinya, Ratu Pucuk Umun menyebarkan Islam di tanah Sumedang (Sunda) yang kemudian diteruskan oleh puteranya, Prabu Geusan Ulun. Kemudian, Sultan Hasanuddin, putera Syarif Hidayatullah, mendirikan kerajaan Islam di Banten.

Kebanyakan cucu-cucu Rasulullah SAW lewat garis keturunan mereka telah berasimilasi penuh dengan penduduk setempat, berbeda dengan mereka yang baru datang para abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Kebanyakan keturunan Arab-Hadrami yang masih ada hingga sekarang di Indonesia adalah peranakan (muwallad) Arab, meskipun ibunya atau neneknya seorang Melayu, mereka tetap cenderung menjaga identitas ‘ke-Araban’ mereka dengan menikahi sesama muwallad lainnya. Hal ini terutama dilakukan oleh golongan Sayyid. Van den Berg menjelaskan:

“Anak-anak perempuan seorang Sayyid tidak boleh menikah dengan lelaki yang bukan golongan Sayyid, Kepala suku yang paling kuat sekalipun tidak dapat menikah dengan anak perempuan dari Sayyid dengan tingkatan yang paling rendah. Namun, seorang Sayid dapat menikah dengan siapapun yang ia sukai.”

Arah-arah menuju Modernisasi: Jamiat Khayr dan Al-Irsyad

Pada akhir abad ke-19, pemikiran pembaharuan Islam Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mempengaruhi banyak sarjana Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan kebodohan. Pemikiran para pembaharu ini menitik beratkan pada upaya pembaharuan dalam bidang agama, pendidikan dan politik. Selain untuk menghacurkan praktek bid’ah dan khurafat, pembaharuan yang diserukan oleh Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh lewat majalah Al-Manar ini menitik beratkan pada pentingnya pembangunan pendidikan. Karena melalui pendidikan inilah, umat muslim bisa terbebas dari belenggu keterbalakangan dan kebodohan.

Yayasan yang menggunakan pendekatan modern ini antara lain ialah Jamiat Khayr , yang didirikan secara resmi oleh Muhammad Al-Fakhir, Idrus bin Ahmad bin Syihabuddin dan Muhammad bin Abdullah bin Syihabuddin dan Sayid Syehan bin Syihab pada tahun 1903 di Batavia (Jakarta). Yayasan pendidikan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam, ditujukan untuk umum, meskipun kebanyakan murid dan anggotanya terdiri dari orang-orang keturunan Arab. Pada tahun 1911, Jamiat Khayr mengundang tiga sarjana muslim terkemuka dari Arab, yaitu Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekah dan yang terakhir, Syekh Ahmad Soorkati dari Sudan yang kemudian terkenal aktif, gigih dan menonjol dalam mendidik kader-kader muslim di sekolah tersebut.

Pada tahun 1913, di Solo, Syekh Ahmad Soorkati mengeluarkan fatwa yang membolehkan gadis keturunan Alawi (Syarifah) menikah dengan pria bukan keturunan Alawi (non-Sayyid). Fatwa ini membuat berang hampir seluruh kaum Arab-Hadrami dari golongan Alawi (sayyid) di Indonesia yang pada akhirnya menjadikan mereka membenci Soorkati. Hal ini karena fatwa yang dikeluarkannya sangat bertentangan dengan ijtihad kebanyakan para ulama dari golongan Alawi di tempat asalnya, Hadramaut. Dengan kata lain, Soorkati menolak pemahaman sistem pernikahan yang didasarkan pada kafaah nasab seperti yang diyakini kaum Alawi. Bahwa Islam sama sekali tidak menerapkan rasialisme dan superioritas kesukuan dalam hal pernikahan. Tidak ada yang lebih tinggi derajat orang Arab dengan mereka yang non-Arab, hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dan Al-Qur’an di surat Al-Hujuraat ayat 13.

Setelah dikucilkan oleh rekan-rekannya dari golongan Alawi, Syekh Soorkati dan kawan-kawan dekatnya mengundurkan diri dari Jamiat Khayr pada tahun 1913. Sedangkan kelompok Arab non-Alawi (golongan Syaikh) memberikan simpati kepada Syekh Soorkati dan membujuknya untuk mengajar di madrasah yang mereka dirikan. Pada tahun 1914, Syekh Soorkati memberi nama sekolah itu dengan Madrasah Al-Irsyad al-Islamiyyah. Madrasah ini dinaungi oleh sebuah Jam’iyah bernama Jam’iyat al-Islah aw al-Irsyad al-Arabiyyah. Selanjutnya para pengikut Ahmad Soorkati yang mayoritas dari penduduk setempat dan Arab-Hadrami non-Sayyid ini (masyaikh) disebut sebagai kaum al-Irsyadi. Meskipun antara golongan Arab Alawi dan Irsyadi terjadi permusuhan yang hebat akibat fatwa tersebut. Namun, tidak semua golongan Alawi membenci Soorkati dan kaum Irsyadi, Sayyid Abdullah bin Alwi Alattas, seorang Intelektual Arab dan pedagang kaya dari golongan Alawi justru tetap menjaga persahabatannya dengan Soorkati, ia juga memberi F 60.000 kepada yayasan Al-Irsyad di awal pendiriannya untuk membangun lebih baik lagi pendidikan yang digagas oleh Al-Irsyad.

Harapan baru keturunan Arab-Hadrami: Partai Arab Indonesia

Upaya persatuan kembali masyarakat Arab di Indonesia setelah perpecahan yang menyakitkan ini terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari golongan sayyid maupun masyaikh. Raja Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud pun pernah ikut turun tangan, namun semua usaha yang pernah ada hanya menemui kegagalan.

Setelah melewati berbagai upaya rekonsiliasi, pada tanggal 4 Oktober 1934, upaya persatuan dan perdamaian masyarakat Arab di Indonesia ini mendapatkan titik cerah dari ide seorang nasionalis muda yang juga wartawan peranakan Arab (muwallad) yang bernama AR Baswedan. Saat itu ia mengumpulkan seluruh pemuka keturunan Arab Indonesia dan mengikrarkan ‘Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab’. Isi ikrar itu ialah mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, menjauhi isolasi diri, dan memenuhi kewajiban sebagai warga negara Indonesia serta membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Ikrar ini kemudian yang melahirkan Partai Arab Indonesia (PAI) di tahun 1940. Setahun kemudian, PAI kemudian diakui sebagai anggota Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia (GAPPI) menuntut Indonesia berparlemen. Persoalan tafadul yang didasarkan pada keturunan di kalangan masyarakat Arab Indonesia akhirnya berhasil diakhiri. Sejak saat itu, mereka diharuskan untuk memanggil sesamanya dengan Al-Akh, yang artinya ‘saudara’.

Meskipun perjuangan PAI untuk tidak lagi mempersoalkan ke’arab’an mereka di tengah kehidupan bernegara di Indonesia, kenyataannya, baik keluarga Arab yang sayyid maupun non-sayyid, mereka tetap jarang menikahkan anak-anak mereka dengan orang pribumi. Mereka tetap menikahkan putera-puteri mereka dengan sesama mereka sendiri yang berketurunan Arab. Hanya sedikit aktivis PAI yang mau menerima orang Indonesia sebagai menantu. Hamid Al-Gadri adalah diantaranya. Sedangkan seluruh putera-puteri AR Baswedan sendiri tetap menikah dengan keturunan Indonesia-Arab (muwallad), kecuali seorang cucunya perempuannya yang menikah dengan lelaki dari suku Jawa.

Mengapa status sosial itu penting?

Indonesia secara sosio-historis dibangun di atas fondasi feodalisme yang sangat kuat. Dimana status sosial seseorang lebih banyak dinilai dari given status dibandingkan achieved status. Contohnya adalah keistimewaan masyarakat Jawa jika ia berasal dari keluarga ningrat, otomatis ia akan menggunakan gelar Raden dan semacamnya, sehingga ia akan dihormati oleh penduduk setempat sebagai seorang bangsawan, meskipun ia tidak berbuat banyak untuk pembangunan bangsanya. Sama halnya dengan gelar Sayyid, pada masa kolonial Belanda, gelar Sayyid merupakan gelar yang sangat disegani oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan hukum yang didasarkan pada latar belakang ras penduduknya, yaitu (1) kelompok Eropa sebagai kelompok tertinggi (2) Timur Asing, diantaranya Cina, Arab, India, Melayu, dsb. Sebagai kelompok tertinggi kedua dan (3) kelompok pribumi, sebagai kelompok yang paling rendah. Jadi, mana ada orang yang tadinya berada pada di posisi teratas ingin berubah berada di posisi terbawah?

Selain itu, sebagian besar masyarakat Arab-Hadrami dari golongan Alawi mempunyai alasan agama dari ulama Salaf dari kalangan mereka sendiri mengenai persoalan menjaga identitas ke-sayyid-an atau ke-Araban mereka, terutama pada masalah kafaah yang didasarkan pada darah keturunan (nasab). Meskipun, pengertian kafaah ini memiliki banyak perbedaan satu sama lainnya, baik dalam pandangan Mazhab Sunni maupun Syi’ah.

Pola Akulturasi dan Asimilasi

Hingga saat ini, banyak dari keturunan Arab-Hadrami masih merasa bangga untuk menjaga identitas ke-Arab-an mereka meskipun mereka terlahir di Indonesia setelah berpuluh-puluh tahun, tidak bisa berbahasa Arab sama sekali dan meskipun mereka sudah hidup seperti orang Barat. Mereka menjadi menciptakan semacam kelas sosial khusus yang eksklusif dan kadangkala menutup pergaulan dengan yang bukan keturunan Arab. Diantara mereka banyak juga yang tidak terlalu mengistimewakan ke-‘Arab’an mereka dan cenderung lebih terbuka untuk bergaul dengan mereka yang bukan keturunan Arab, bahkan keturunan Arab di Kedah, Malaysia mereka lebih suka disebut sebagai orang Melayu dibandingkan disebut orang Arab. Dan di sisi lain juga, banyak sekali keturunan Arab-Hadrami di Indonesia dan Malaysia yang sudah secara penuh berasimilasi dengan penduduk setempat berabad-abad, tidak lagi mempedulikan tradisi feodalistik tersebut. Diantara mereka, meskipun telah berasimilasi penuh, mereka tetap mengetahui asal-usul moyang mereka berikut memiliki silsilah lengkapnya, dan di saat yang sama, diantara mereka ada juga yang tidak mengetahui asal-usul nenek moyang mereka sama sekali.

Bagi mereka yang berasimilasi penuh melalui pernikahan dengan orang-orang Indonesia, baik lelaki maupun perempuan, biasanya mereka mengganti nama mereka dengan nama-nama yang biasa dipakai oleh masyarakat pribumi. Kadangkala, diantara mereka ada juga yang mencampurkan nama Arab dan nama asli pribumi. Pada umumnya, banyak diantara mereka yang mendapat kesulitan untuk mendapatkan restu dari orang tua mereka untuk menikah dengan yang bukan Arab, namun pada akhirnya tidak menjadi masalah, malah mereka tetap berhubungan baik dengan sanak saudaranya sebagaimana sebelum pernikahan. Wajah-wajah peranakan Arab ini kebanyakan sudah sama sekali tidak mirip dengan orang Arab, sebaliknya, mereka sudah sangat berwajah Indonesia, Cina atau Melayu.

Penutup

Hingga saat sekarang ini, banyak sekali diantara mereka yang masih menjalankan tradisi mereka tapi tanpa tahu sama sekali alasan sesungguhnya kenapa mereka mesti melakukan itu. Seolah-olah tradisi ini ‘mengkristal’ dalam setiap tubuh dan jiwa mereka. Dan inilah yang menjadi masalah pada umumnya bagi keturunan Arab yang menghendaki perubahan. Baik keturunan Arab-hadrami di Indonesia, Malaysia, India dan Singapura, mereka mengakui bahwa Globalisasi sudah merubah pola kehidupan masyarakat secara luas dan semakin menuntut mereka untuk terbuka dengan berbagai perubahan nilai dan kehidupan sosial. Mereka terjebak dalam sebuah dilema antara mengikuti tradisi lama dan perubahan yang radikal.

Konferensi Internasional yang diadakan Departemen Sejarah dan Peradaban (History and Civilization) International Islamic University Malaysia pada 26-28 Agutus 2005 yang lalu membahas persoalan ini. Para akademisi, peneliti dan ulama dari tiga puluh negara berkumpul dan bertukar pikiran mengenai perkembangan masyarakat Arab-Hadrami di Asia Tenggara. Diantara mereka yang berpartisipasi dari Indonesia adalah Alwi Alatas, mahasiswa pasca Sarjana jurusan Sejarah IIUM, Umar Faridz El-Hamdy, mahasiswa Sarjana jurusan Ilmu Politik di IIUM, keduanya menjadi pembicara dalam konferensi tersebut dan saya pribadi, Hikmawan Saefullah, yang hanya menjadi kandidat pembicara karena keterlambatan Informasi.

Dalam konferensi yang dibuka oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Syed Hamid Albar dan Duta Besar Republik Yaman untuk Malaysia, Dr. Nasser. A. Al-Munibari, hadir juga para pakar studi Oriental seperti Prof. Dr. Ulrike Freitag, Prof. William R. Rolff. Para Ilmuwan dan sarjana sosial dari kalangan Sayyid dan masyaikh pun ikut hadir dalam konferensi ini. Namun, sayang, diantara mereka tidak ada satupun yang membahas persoalan utamanya, yaitu antara pilihan menjaga identitas sebagai keturunan Arab-Hadrami atau berasimilasi penuh? Padahal, banyak sekali diantara mereka, sama seperti di Indonesia, yang mempertanyakan persoalan itu.

Yang pasti, dalam menghadapi setiap zaman, diperlukan suatu pendekatanbaru yang mesti dilakukan oleh setiap komunitas masyarakat, tanpa terkecuali masyarakat keturunan Arab-Hadrami. Di era Globalisasi ini, tampaknya persoalan identitas sosial seperti di atas sudah semakin tidak relevan, sebaliknya, ia semakin menuntut integritas seluruh umat manusia, baik yang muslim maupun non-muslim, yang arab maupun non-Arab untuk bersatu dan bekerja sama dalam menciptakan bangsa yang bermoral tinggi, kerja keras, rendah hati, kreatif dan inovatif sebagai upaya untuk menciptakan negara Indonesia yang mampu memberikan masa depan yang baik untuk anak dan cucu kita semua di masa yang akan mendatang. Dan bukankah ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW? Yaitu untuk menyatukan seluruh umat manusia di bawah satu naungan ajaran perdamaian yang egaliter tanpa harus membeda-bedakan latar belakang ras, suku bangsa, bahasa dan budayanya masing-masing?

Sumber Referensi:

AbuShouq, Ahmed Ibrahim (2005): Al-Manar and the Hadrami Elite in Malay-Indonesian World: Challange and Response

Affandi, Bisri (1999): Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943), Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta. Pustaka Al-Kautsar

Al-Husaini, AL-Hamid (1996): Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah. Penerbit Yayasan Al-Hamidy.

Alattas, Alwi (2005): Pan-Islamism and Islamic Resurgence in the Netherlands East Indies: The Role of Abdullah ibn Alwi Al-Attas (1840-1928)

Assagaaf, M. Hasyim (2000): Derita Puteri-puteri Nabi, Studi Historis Kafaah Syarifah. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Ensiklopedi Islam (1994) PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta

Hassan, Sharifah Zaleha Syed (2005): History and Indigenization of the Arabs in Kedah, Malaysia

Iskandar, Yoseph (1997): Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Penerbit CV Geger Sunten, Bandung

Posted in Sejarah | Leave a comment