BIOGRAFI SUNAN GIRI

Oleh:
Asy-Syaikh As-Sayyid Al-Habib KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini
(Peneliti Sejarah & Nasab Wali Songo, Mursyid Thariqah Wali Songo dan Pimpinan Majelis Dakwah Wali Songo)

TANGGAL DAN TEMPAT LAHIR

Sunan Giri adalah nama salah seorang Wali Songo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan (Sekarang Banyuwangi) 9 Juni 1442 Masehi.

NAMA DAN GELAR SUNAN GIRI

Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu
1. Raden Paku,
2. Prabu Satmata,
3. Sultan Abdul Faqih,
4. Raden ‘Ainul Yaqin
5. Joko Samudra.
6. Sultan Giri Kedathon.

AYAH SUNAN GIRI

Sunan Giri adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Raja Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.

NASAB SUNAN GIRI

Sunan Giri bin Maulana Ishaq bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah

KISAH MASA KECIL SUNAN GIRI

Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu menghanyutkannya ke laut.

Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.

Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.

ISTRI & ANAK SUNAN GIRI

Sunan Giri menikah dengan Dewi Murtasiyah binti Sunan Ampel, berputera :
1. Sayyid Ali Zainal Abidin alias Alias Ali Sumodiro alias Raden Dalem alias Sunan Dalem alias Sunan Giri II

2. Sayyid Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen)

3. Sayyid Abdullah alias Jayengresmi alias Syekh Amongraga alias Sunan Kidul, menikah dengan Tambangraras, putri Ki Panurta. Jayengresmi memiliki karya yaitu Suluk Serat Centhini.

4. Sayyid Ibrahim alias Jayengsari,
5. Sayyid Hasan alias Rancangkapti.
6. Sayyid Husain alias Darmakusuma

KARYA SUNAN GIRI
1. Gending Asmaradhana
2. Gending Pucung
3. Permainan Jelungan
4. Permainan Jamuran
5. Permainan Gendi Gerit
6. Permainan Jor,
7. Permainan Gula Ganti
8. Lagu Cublak-Cublak Suweng
9. Lagu Lir-ilir
10.Lagu Tembang Dolanan Bocah

CARA DAKWAH SUNAN GIRI:

Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden ‘Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

MAKAM SUNAN GIRI

Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

DAFTAR REFERENSI:

1. Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini,MANAQIB DAN NASAB KELUARGA KETURUNAN SUNAN GIRI, Banyuwangi, 1979
2. Meinsma, J.J., 1903. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage.
3. Van Bruinessen, Martin, 1994. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150, hal 305-329.
4. Drs. H. Ridwan Saidi (27 Maret 2007). Disampaikan pada Seminar Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Diselenggarakan oleh JIC (Jakarta Islamic Centre), Jakarta. Artikel Republika Online: Jumat, 13 April 2007.
5. Van den Berg, Lodewijk Willem Christiaan, 1886. ”Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien. Impr. du gouvernement, Batavia.
6. Muljana, Slamet (22 Juli 2010). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS. hlm. xxvi + 302 hlm.. ISBN 9799798451163.
7. Russell Jones, review on Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries written by H. J. de Graaf; Th. G. Th. Pigeaud; M. C. Ricklefs, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2. (1987), hlm. 423-424.

About these ads
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s